Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Mei 2015

Memberi dan Menerima

Sebuah nasihat berkata, lebih baik tangan di atas daripada di bawah. Memberi itu lebih baik dari menerima.

Ada yang menarik ketika memberi, ada rasa senang dan puas. Bersyukurlah bila hati ini terpaut ingin memberi terus daripada berharap pada makhluk. Ungkapan meminta memang pantasnya kepada Allah. Bercanda traktiran dan lain sebagainya, bila sudah berlebih maka dapat mengeraskan hati. 

Berharap pada makhluk hanya menimbulkan kecewa. Apa yang diminta jika yang diharapkan pun masih mengharap dari yang lain?

Orang yang memberi akan merasa kaya, karena merasa mampu. Ya, mampu dalam keadaan apapun. Puncaknya ialah mengalahkan ego untuk menjauhkan diri dari kekikiran. Namun, pernahkah berpikir bahwa ketika memberi sebenarnya kita menerima? Bukankah tak semua orang dapat menerima pemberian? Hingga kusadari, bahwa rejeki sebenarnya ialah kelapangan untuk berbuat baik. Dimana itu semua ialah pemberian. Ya, memberi itu menerima. Menerima peluang untuk beramal.

SRSL, 16052015, 13:00

Minggu, 03 Mei 2015

Lalu, Aku Siapa?

Dia yang kehilangan jati diri laksana singa yang lupa tugasnya bahwa ia seekor raja hutan. Terkungkung dalam sangkar, hingga tak tahu fungsi cakar dan taringnya yang tajam. Begitulah diri ini. Bila tak mencoba maka tak akan tahu rahasia di baliknya. Akan tetapi tak segala hal boleh dicoba. Selalu lakukan pemikiran dan pengukuran. Tersebab, tak sama kemampuan dalam setiap orang. Jangan sampai hal yang seharusnya mudah, justru kita tinggalkan karena melihat orang lain terlihat lebih mudah melakukan hal lain. Saya adalah saya. Memiliki keunikan untuk memerankan setiap peran. 

Dalam diri ini terdapat ruang kelebihan dan kekurangan. Mungkin karena itu kita dicipta tak sendirian. Sebabnya, ada ruang kosong dalam ketidakmampuan orang lain yang bisa kita lakukan dengan kelebihan kita. Begitu pun sebaliknya, dalam kemampuan orang lain ada ketidakmampuan dalam diri. Saling mengisi, itulah kehidupan. 

Bila mengingat pada bagaimana kita bermula dan seperti apa kita berakhir, pantaskah terlahir kesombongan dalam diri ini wahai diri?

Keluarga

Adalah keluarga yang menjadi lembaran pembuka jati diri seseorang. Seberapa besar pengaruh lingkungan luar, lingkungan keluarga tetaplah yang utama. Terutama peran orang tua. Ungkapan buah jatuh tak jatuh dari pohonnya, bagiku itu tepat sekali. 

Saya suka mengamati orang lain. Seringkali tanpa sadar ketika ada orang asing, kuperhatikan hingga detail. Mungkin ketika ketahuan, orang tersebut menjadi risih. Sesekali membandingkan seorang anak dalam pangkuan ibunya, mencari kemiripan. Bahkan pasangan suami istri maupun pemuda. Entahlah, seringkali saya menandai kemiripan seseorang dari bentuk hidung. Emm...sebetulnya ini bukan kebiasaan yang baik, jadi jangan ditiru. 

Selain mengamati bentu wajah, bentuk tubuh, saya juga tertarik pada kesamaan sifat. Cara berbicaranya, cara berfikir, kehidupan sehari-hari, kebiasaannya. Anak yang terdidik oleh keluarga yang suka membaca, kemungkinan besar akan memiliki kesukaan yang sama. Begitupun dengan anak yang terdidik oleh orang tua yang suka berbicara kasar, maka sahut-sahutan anak-bapak-ibu dengan ungkapan tak sopan adalah pemandangan yang wajar. 

Maka beruntunglah kamu yang terdidik oleh keluarga yang luar biasa. Orang tua yang pandai membesarkan hati. Yang mampu menumbuhkan kepercayaan diri pada anaknya. Mengajarkan kesederhanaan dan nikmatnya bersyukur. 

Kenyataannya, tak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Ada yang harus kehilangan ayah atau ibunya saat usia kecil, bisa juga kedua orang tua masih ada, namun salah satunya memiliki gangguan kejiwaan atau bahkan memiliki orang tua utuh yang tak berusaha menanamkan kedekatan pada anak. Namun, dalam diri orang-orang inilah kutemukan kekuatan yang setegar karang. Tak pernah mengeluh pun jua tak mengharap belas kasih. Tetap berdiri dengan penuh percaya diri dan meyakini bahwa dia mampu. 

Well, masihkah kamu mengeluhkan kondisi ayahmu, ibumu, saudaramu, keluargamu? Memang kita tak pernah bisa memilih dilahirkan di rahim mana, namun kita memiliki kesempatan untuk menjadi orang tua yang seperti apa. Sebabnya, kualitas seorang anak adalah cerminan orang tua. Memang ada banyak orang yang terdidik dengan baik dari lingkungan luar, tapi bukankah kewajiban orang tua ialah menjadi madrasah bagi setiap anak? 

Sabtu, 11 April 2015

Proses

Pernah terlintas pikiran lucu...
Bila Allah cukup berkata Kun, mengapa seorang ibu harus berpayah mengandung bayi selama 9 bulan?

Bila diciptakan kaki untuk berjalan, mengapa tak dapat difungsikan sejak lahir?

Bila mata ada untuk melihat, mengapa perlu beberapa hari untuk bisa berkedip bila ada jari yang mengibas di depannya?

Begitu pula mulut yang tak langsung dapat berbicara fasih, tangan untuk menyendok makanan, atau gigi untuk mengunyah.

Tari, bukankah segala hal di dunia ini berjalan menurut hukum alam dalam balutan kasihNya?

Andai bayi yang dikandung dalam hitungan detik atau jam saja langsung membesar, lantas bagaimana kondisi si ibu?

Pun begitu dengan anggota indra yang kita punya. Allah ingin mengajarkan bahwa segala hal ialah proses.  Dibuat kaki ini tak langsung befungsi, karena Allah memberi ladang pahala untuk ibu bersabar merawat. Melatih berbicara, melatih makan serta mengajarkan banyak hal.

Allah ingin kita tumbuh dengan proses yang mematangkan. Perkara mau jadi apa di masa depan, biar Allah saja yang urus. Toh, dipaksa sebagaimana pun. tetap kalah dengan rencana dzat yang maha membolak-balikkan isi hati.

Semua butuh proses. Bukan hasil akhir yang dinilai, tapi prosesnya.
Allah tak akan menilai hasil akhir sebab Allah sudah tahu hasilnya.
Semoga Allah beri kekuatan untuk berubah. Aamiin ya Rabb...

-SRSL-

Bahagia

Akhirnya aku mendefinisikan bahagia sebagai memberi
Memberi ialah menyerahkan dengan tulus
Sebab hanya dengan ketulusanlah kita tak kan menaruh harap
Cukup Allah sebagai saksi dan pembalas amal

Memberi dengan tulus membuat kita tak mengharap
Berharap orang lain melakukan hal yang sama hanya membuat jiwa kusut tak berkembang

Bahagia itu memberi tak mengharap kembali
Sederhana saja
Karenanya aku ingin menjadi orang bodoh, 
tak perlu dibebani dengan banyak hal yang tak penting
Cukup melakukan, tanpa harus berfikir 

-SRSL-

Rabu, 11 Maret 2015

Jangan Tergesa

Sudah menjadi tabiat manusia bahwa tergesa-gesa itu ada. Hati yang dipenuhi dengan ambisi dan hawa nafsu. Rasa tak sabar sering kali menyelimuti. Alih-alaih berdoa, namun setengahnya lebih kita memaksa.

Sabar memang mudah diucap, namun tak sulit juga untuk ditahan.
Pahamlah aku mengapa para orang saleh lebih banyak diam daripada berbicara panjang lebar. Sebabnya, diamnya ialah pencarian makna dari ketafakuran. Ketika mereka berucap, singkat saja namun menancap penuh makna.

Diri ini masih sering kesusahan membedakan mana target, tujuan, maupun ambisi dan hawa nafsu. Selepasnya, terengah-engah tanpa tahu alasan. Akhirnya aku tahu, mengapa Dia membolak-balikkan isi hati. Agar kita bisa merasakan bahagia, namun seketika kita ditarik agar kembali mengingatNya. Agar tak berlebih, agar takarannya pas.

Teringat pada sebuah nasihat, hati itu laksana rumah, setiap rumah memiliki ruang tamu. Ketika kebahagiaan datang, maka dudukkan dia di kursi bahagia dan jika sedih datang, dudukkan dia di kursi sedih. Jadikan mereka berdua tamu di rumahmu, karena yang bertamu hanya dipersilahkan duduk di ruang tamu, tak menelanjangi isi rumahmu.

Aku tak sesempurna apa yang kuucap dan kutulis, namun biarlah aku mencatatnya sebagai pengingat, bahwa  setiap diri sejatinya meminta haknya untuk digerakkan pada kebaikan.

Pesan seseorang, jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Ya, jangan tergesa, karena tergesa sifatnya syaitan. 

Senin, 06 Oktober 2014

SELAMAT DATANG OKTOBER!

Oktober ialah bulan dimana usiaku berkurang dalam kalkulasi tahun. 

Aku tak pernah tahu akankah esok masih kutemui dengan nafas yang terhirup-hembus secara sempurna. Pemahaman tentang kematian pun baru kupahami setelah berusia seperempat abad kurang dua tahun dua puluh empat hari. Ah, bila kuingat rasanya malu dan khawatir tak mampu melihat wajahNya dengan ceria nantinya.

Oktober pun menjadi awal kesadaran dan pembuat keputusan besar.

Seperti yang kita ketahui, nikmat itu terdiri dari dua hal yang paling sering kita lalaikan. Yaitu nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang. Enam belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Akupun menyadari bahwa kesempatan itu tak mampu kugunakan dengan sebaik-baiknya. Andai kala itu fokusku terarah tepat pada sasaran, maka kata penyesalan tak akan hinggap dalam diri. 

Pembuat keputusan besar. Oktober menjadi awal untukku benar-benar berstatus sebagai mahasiswa. Akhirnya! 

Beberapa bulan lalu, aku harus memilih untuk bekerja sebagai auditor atau pengusaha. Ternyata Allah begitu baik, kesempatan itu diberikan padaku secara bertahap. Enam bulan menjadi auditor, dan akhirnya melanjutkan sebagai saudagar. Aih, nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan, Tari?

Kegelisahan memang tak cukup dialihkan dengan rekreasi atau pergi bersenang-senang saja. Akan tetapi, kegelisahan harus dicari sumber pangkalnya agar kita tahu bagaimana mengatasi akibatnya. 

Proses pencarian jati diri.
Aku rasa semua orang seharusnya mampu melewati ini pada usia transisi. Namun terkadang merasa bingung juga jika masih menemukan orang tua yang masih tidak beraturan hidup dan bicaranya. Apakah mereka tidak melalui proses ini? Disebutnya apa proses ini oleh mereka? Tanda kejenuhan atau tingkat stress yang meninggi? Ah, aku harus mencari jawabnya.

Mengenal siapa diriku merupakan pintu untuk mewujudkan pencapaian-pencapaian lainnya. Rasa menyesal, bersalah dan malu akan masa lalu seakan menumpuk. Kata andai secara spontan seringkali keluar. 

Kita tak boleh hidup dalam bayangan masa lalu yang penuh dengan penyesalan. Hidup kita untuk saat ini dan masa depan, bila esok tak ingin mengalami penyesalan yang sama maka kita harus melakukan yang terbaik secara terus-menerus. 

Impian itu banyak. Sama halnya dengan cita-cita dan keinginan. Akan tetapi, impian selamanya hanya akan menjadi impian jika tak diimbangi dengan pergerakan.

Ah, setidaknya membuat jadwal harian bagiku merupakan suatu usaha. Dan aku harus mematuhinya. Aku rasa, tak akan ada hal kecil yang sia-sia bila itu baik. Bi idznillah.

Sidoarjo, 07102014
SRSL

Kamis, 11 September 2014

Tak Masalah, Hamasah!

Putaran detik yang tak pernah peduli pada siapa yang merampasnya. Setiap gerakan detik menimbulkan masalah baru, bagi yang menganggapnya masalah. Masalah pun tak pilih kasih. Tak pernah peduli kau anak siapa, umur berapa, berapa hartamu, apa prestasimu. Tak akan pernah pilih kasih. 

Beda wajah beda nasib pun beda masalahnya. Masalah ada untuk tak disalahkan. Mungkin dadamu terasa sesak, kedua tangan dan kakimu dingin, bahkan jantungmu berdetak lebih cepat. Saat seperti itu, siapa yang kau tunggu? Waktulah yang berkuasa. Ia selalu konsisten, tak mau lebih cepat atau melambat. Lantas apa yang akan kau pinta? Memintanya berlari sprint berharap masalahmu segera berlalu? 

Aku rasa tak semudah itu. Masalah ada untuk ditaklukkan. Penguat serta pengenal diri. Kau bahkan tak pernah sanggup melihat kulit punggungmu tanpa bantuan kaca. Lantas, apakah kau sebut sudah mengenal dirimu? Sebutlah AKU. Siapakah aku? Baiklah, kuberikan jawaban terbaik. Aku adalah Tari beberapa memanggilku Rahayu. Keduanya sama-sama kusuka. Aku lahir dua puluh tiga tahun yang lalu. Di sebuah kota kecil Jawa Timur. Aku menyukai biru. Aku adalah orang ekstrovert. Bintangku Libra. Penggila sambal. Suka membaca. Suka menyanyi.




Yups... Itulah jawaban terbaik bila kau minta kumengisi biodata. 

Tapi, ternyata tak cukup itu untuk menjawab SIAPA AKU?
Barangkali aku termasuk orang yang terlambat mengenal siapa aku. Memahami bahwa aku seorang ekstrovert yang cenderung negatif saja baru-baru ini kuketahui. Sekali lagi, jilbab menunjukkan bagaimana perempuan seharusnya. 

Kenyataan bahwa perang paling hebat ialah memerangi diri sendiri patut kuiyakan dengan segenap hati.  Selanjutnya, secara beruntun ditunjukkan sifat-sifat jelek. Kadar sensitifitasku juga semakin meninggi. Mudah sekali menangkap radar keburukan dalam diri. Aku memang pengamat orang, namun ternyata belum benar-benar mampu membaca orang lain.

Saat bertemu dengan sifat buruk kembali rasa tak enak hati timbul kembali. Seringkali tanpa sadar aku nyeletuk, "owh, ternyata aku seperti ini". Sungguh...pertempuran terhebat adalah melawan diri sendiri. Ketika aku memulai pribadi baruku di lingkungan yang baru, mereka menyambutnya dengan baik. Tapi, saat kembali ke lingkungan lama cenderung aku kembali pada pribadi buruk. Selepasnya, hanya bisa istighfar dan minta dikuatkan untuk mengalahkan keburukan diri. 

Seseorang pernah bertanya, "nyamankah dengan kepribadianmu yang sekarang?"
Aku menjawab, sangat nyaman. Meski memang harus berjuang di awal. Baiklah, aku teringat materi empat kepribadian saat Pramuka dulu. Disitulah awal mula aku mencari tahu apa yang dimaksud. 

Sebagian besar sikapku mengarah pada ekstrovert. Pembawaan yang rame, berisik, pencilakan, suka tampil. Memang tak semuanya negatif namun semakin aku tahu semakin aku merasa tak nyaman dengan sifat dasarku. 

Kata Kak Erry, pembina Pramukaku dulu, "kalau bisa jangan stagnant pada satu jenis kepribadian. Tapi optimalkan nilai positif dari sifat dasarmu dan bergeraklah menyeberang pada kepribadian yang lain. Ambil yang baik dan cocok untukmu."

Aku pegang betul pesan itu. Tanpa sadar, para pembina pramukaku di SMP dulu sangat berjasa mengenalkan siapa aku. Semoga keberkahan melimpahi hidupnya. Aamiin.

Tak jarang aku merasa memiliki berbagai topeng kepribadian. Namun, ingatlah saat kamu bertemu dengan orang bermuka dua, jangan langsung suudzan ya? Bisa jadi saat itu ia sedang berjuang melawan sifat buruknya.

Jadi, tak masalah, hamasah Tari!

Selasa, 26 Agustus 2014

Siapa Pemberi Jawaban?

"Jangan pernah kau merasa dirimu tak sanggup menghadapi. Mintalah kepada yang disana, hingga terbuka hatimu dalam menjalani kehidupan ini..."
-Sabila, Mintalah-

Kata orang bijak, hidup ini hanya sebatas berteduh untuk minum. Semakin kita mengejar, semakin kita tertinggal. Apakah kamu pernah merasakan keraguan atas pilihan? Ya, pasti sering dan hampir selalu iya. 

Mentari pagi ialah tanda adanya kehidupan yang harus diperjuangkan. Saat bangun seharusnya kita bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan memperbaiki kesalahan. Namun, seringkali aku merasa ketakutan saat bangun tidur. Berdoa untuk dimatikan kadang terasa jauh lebih baik. "Rabbi, bila berdetaknya jantungku hanya membuat diriku menjadi hamba yang ingkar, maka matikan aku sekarang, aku ingin mati dalam keadaan Islam."
 
Jawaban atas pilihan adalah bagian dari skenario Allah. Lantas kepada siapa lagi meminta petunjuk jika bukan kepadaNya? Allah adalah penyimpan rahasia terbaik. Maka, hanya Allah yang berhak mendengar keluh kesah hambaNya, bukan hamba kepada hamba. 

Jawaban tersebut bisa jadi kita anggap baik, namun belum tentu disambut baik juga oleh orang lain. Bisa jadi sebaliknya, kita tak menginginkan namun terkadang baik di mata orang lain. Tentunya ada pertimbangan lain untuk meyakinkan pilihan. Entah itu melanjutkan atau menghentikan pilihan.

Bila sudah begitu, maka kembalikan pada Allah sebagai pemberi keputusan terbijak. Apapun hasilnya, pasti yang terbaik. Saat menghadapi sesuatu yang berbenturan dengan keinginan, maka keikhlasan hanya perkara waktu. Jangan bersedih, ada Allah bersama kita.

SRSL
Kayun, 27082014

Minggu, 13 Juli 2014

Saya Orang Paling Bahagia

Siapa orang paling bahagia di dunia ini?
Angkat tanganmu tinggi dan katakan, SAYA ORANG PALING BAHAGIA.

Bila memiliki Bapak dan Ibu, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila memiliki saudara yang menyayangimu, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila memiliki pasangan yang soleh dan solihah, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila hartamu habis karena menafkahkan pada orang lain, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila masih banyak teman yang bisa kau tegur, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila pekerjaanmu terlaksana sesuai amanah, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila masih ada teman yang menasehatimu, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila masih ada makanan di meja makan, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila masih memiliki kesempatan untuk belajar, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila masih memiliki mimpi yang kuat, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila masih ringan langkahmu menuju majelis ilmu, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila masih dipertemukan dengan orang yang menyakitimu, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila masih ada pelukan hangat sahabat, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"
Bila masih tersimpan rasa yang meluap untuk Allah-mu, katakan "Saya Orang Paling Bahagia"

*******

Sore itu menjadi bukti betapa kasih sayang Allah begitu luas, dan betapa Allah sesuai dengan prasangka. Tepat seperti kretekan hati. Maka nikmat Allah mana lagi yang harus didustakan? Allah saja menunjukkan rasa cintaNya, mengapa harus malu menunjukkan balik?

Siapa yang menggerakkan lidahmu untuk berdzikir?
Siapa yang memilihkan baju hingga orang memuji dirimu?
Siapa yang membelikan kendaraan hingga mudah kemanapun kau pergi?
Siapa yang membuatmu ingat hari ini hari Senin?
Siapa yang memilihkan menu buka yang enak untukmu?
Siapa yang mengenalkanmu pada lagu-lagu yang mengingatkanmu padaNya?
Siapa yang membuatmu menangis pada setiap sentuhan hati?
Siapa yang membnuat orang lain menyayangimu?

ALLAH AZZA WA JALLA  jawabnya.

Percaya atau tidak, namun harus percaya bahwa apa yang terjadi dalam tiap detik ini sudah tertulis dalam Lauhul Mahfudz. Orang-orang yang akan kita temui, baju yang kita kenakan, makanan yang kita makan, tempat yang kita kunjungi, ucapan yang kita keluarkan, sikap yang kita lakukan, bahkan niat yang masih dalam hati. Allah sudah menulis di kitab agungNya... 
Saya adalah 
"Orang Paling Bahagia, because Inallaha ma'ana...."

Ayo tunjukkan, Islam ada di wajah, di senyum, di langkah, di tangan, di kaki, di pendengaran. Islam ada pada diri kita.

Alam Semesta, 14072014
-SRSL-

Minggu, 16 Maret 2014

Aku Sebut Ini Hijrah

Pagi ini tepat pukul 7.42 WIB aku tiba di kampus untuk berkumpul dengan rombongan yang akan datang ke Talk Show with Oki Setiana Dewi. 

Aku masih ingat beberapa tahun lalu, ketika masih duduk di SMK. Sekitar tahun 2010, awal kemunculan Oki di televisi. Dalam sebuah film yang mengangkat namanya, Ketika Cinta Bertasbih. Saat itu, teman-temanku ribut pengen nonton, tapi aku adalah satu-satunya penghuni kelas yang menolak dengan mantap untuk tak ikut menonton. Alasannya sepele, kisah cinta Islami yang bagiku gak banget

Aku dulu terkenal dengan "kelelakianku" meski rambutku tak dipotong cepak namun tingkah dan kesukaanku menyerupai lelaki.  Ataghfirullah...Jahiliyah. :-(

Menyadari sebuah pesan bahwa jika mengetahui sebuah ilmu namun tak diamalkan, maka akan menanggung dosa. Disitu aku berkesimpulan, "Lebih baik nda ngerti sama sekali, daripada tahu tapi nd abisa mengamalkan.". Nah, dengan kesimpulan semena-mena ini, aku sok idealis menolak dengan tegas ajakan mereka. 

Sampai sekarang pun aku tak pernah tahu bagaimana cerita pasti tentang film Ketika Cinta Bertasbih. Dulu pernah dikasih pinjam CD (Compact Disc) nya sama temen, saat ku putar, sukses deh bikin tidur. Walhasil, nda tahu jalan cerita. Adegan yang ku ingat adalah saat Ana di bis, sudah. Khatam. 

Nama pemainnya siapa saja juga aku tak tahu. Sosok Oki pun baru aku tahu kalau dia pemeran Ana di film tersebut. Belum lagi pemain yang lain, mungkin aku hanya tahu wajahnya namun tak tahu siapa namanya. Yah..begitu apatisnya saya. 

Saking apatisnya, saat pertama melihat sosok Oki, aku sempat nyeletuk, "Buat apa sih kerudungan segitu rapetnya, biasa ajalah, nda perlu terlalu fanatik." Hmm..emang dasar apatis jahiliyah, -_-

Aku selalu bersyukur, bagiku tahun 2013 adalah awal kebangkitanku untuk tersesat ke jalan yang benar. :)

Memang betul apa yang mereka katakan, bahwa jika ada hamba yang berjalan ke arahnya, maka Allah akan berlari menjemputnya untuk memberikan jalan. Satu persatu aku ditunjukkan jawaban atas setiap pertanyaan yang ku jawab sendiri dengan kesinisan. Finally... aku sukses sadar bahwa aku Islam KTP. Pemahaman Islam dangkal yang menyatakan bahwa Sholat, puasa ramadhan, atau berhaji bagi yang mampu itu baik. Dan mencuri atau durhaka pada orang tua itu buruk.

Aku sebut saat ini adalah proses hijrah...
Sedikit demi sedikit aku mulai paham dan merubah cara berkerudung, berpakaian, bersikap, beribadah maupun bertutur kata. Sempat tersirat rasa malu dan minder dalam diri. Aku yang bermula dari tak tahu apa-apa, memberanikan diri merubah penampilan untuk ukuran seorang perempuan sholehah. Aku juga takut ketika mereka mempertanyakan ke-islamanku. Bagaimana ngajimu? sudah hafal berapa juz? Bagaimana hukum ini-itu? Bagaimana kalau seperti ini? Sungguh, aku pernah merasa kerdil untuk ini. 

Mengingat aku juga tak berasal dari keluarga dengan kekentalan Islamnya. Aku juga bukan anak yang notabene lulusan pondokan. Aku sangat menyesal bila mengingat kenakalan masa kecilku, yang begitu sulitnya disuruh pergi mengaji. Kini, aku baru tahu mengapa masa muda itu masa emas untuk mempersiapkan masa tua. Ah, Tari... tak ada kata terlambat. 

Pemahamanku untuk mengakui bahwa tak ada suatu hal yang terjadi tanpa campur tangan Allah pun semakin menguat. Kini, aku dimudahkan untuk mengambil sisi positif dari hal negatif. Syukur Alhamdulillah. Emosiku juga tak begitu lekas meledak. Cara berbicaraku juga tak se-ekstrim dulu. 

Penampilanku mampu mengontrol rasa malu. Kembali lagi, alhamdulillah... Oki bilang, kerudung itu bukan dipakai saat sudah memahami Islam namun kerudung adalah pembuka pintu kebaikan.

Bertemu Oki pagi ini membuatku semakin bersyukur dan menaruh rasa penasaran untuk belajar lebih menjadi perempuan sholehah. Oki ternyata juga bukan lulusan pondokan, juga bukan dari keluarga yang kental ke-islamannya. Namun, ketika Allah berkehendak, maka kun fayakun. Aku ingin mendapatkan kun fayakun nya Allah. Dalam hal ini, banyak teladan dari Oki yang harus aku tiru. 

Kata Mbak Beb, "Formula orang sukses itu sama, mimpi. Pembedanya hanya kesungguhan."


SRSL
Sby, 17032014






Rabu, 12 Maret 2014

Tak Ada Alasan Untuk Tak Bersyukur

Bagaimana perasaanmu bila disakiti orang?
Bagaimana perasaanmu bila menyakiti orang?
Bagaimana jika ia tegas untuk menghapusmu dari memori?

Terkadang seseorang harus tegas terhadap hatinya. Tegas terhadap hal yang mampu melemahkan. Bila memang harus dihindari, maka lepaskan. Percayalah, itu hanya masalah waktu. Pada akhirnya, waktu yang akan menggerus kenyataan pahit lalu menggiringmu pada keindahan. Sebuah keindahan yang mampu memaafkan kenangan.

Mungkin dalam hitungan detik, menit, jam, hari, bulan atau tahun. Kita tak pernah tahu. Allah selalu Maha membolak-balikkan isi hati. Sebuah permainan yang menempa. Perlu diyakini, seseorang yang menyakitimu ialah orang yang meninggalkan jejak kedewasaan dalam dirimu, meski sedikit.

Hidup tak melulu masalah roman. Ada banyak impian dan tugas yang harus di eksekusi. Jangan menunggu Allah take over  bebanmu jika tak terdapat usaha dalam diri. Pisau pun akan menjadi tumpul bila tak diasah. Begitu pula kita. Yakin deh, Allah tak pernah menciptakan sesuatu tanpa alasan.

Allah menciptakan kita tentunya dengan kepercayaan paling sempurna. Dia menitipkan mata, tangan, telinga, mulut, kaki, kulit, hidung. Bagaimanapun bentuknya, itu ialah milik-Nya tersempurna untukmu. 

Bila sudah begitu, mengapa harus risau dengan bentuk hidung yang pesek? tubuh yang gemuk? kaki yang pendek?  kulit yang gelap? tubuh yang kurus? gigi yang kelebihan volume? atau bibir yang tebal dan lebar?

Percaya, semua adalah aset terhebat yang dititipkan oleh Allah. Jangan pernah membayangkan bila Allah mencabut kontrak pinjaman aset dari tangan kita. Bersyukurlah, dengan hidung yang pesek kamu masih bisa tersenyum tulus. Tubuh gemukmu membuat orang sayang kepadamu. Kaki pendekmu diringankan untuk mendatangi kajian atau masjid. Kulit gelapmu menambah senyum manismu. Tubuh kurusmu yang kebal terhadap penyakit. Gigi kelebihan volumemu yang akan menampilkan keceriaan tanpa pamrih, atau bibir tebal dan lebarmu yang selalu tersusun kalimat motivasi dan menyejukkan untuk orang di sekitarmu.

Tersenyum dan berbahagialah.  
Laa Tahzan, Innallaha Ma'ana. Jangan bersedih ya, Allah bersama kita.
Semangat rehat...


Selasa, 07 Januari 2014

Please, Jangan Buka Topengmu!

Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan ku lihat warnamu

(Peterpan - Topeng)

Bagiku, setiap wajah adalah topeng. Di dalamnya tersimpan ribuan cadangan topeng yang siap diperankan. Ketika seseorang merasa nyaman dengan kehadiran kita, maka secara otomatis ia setuju dengan topeng yang kita pilih. Begitu juga sebaliknya, jika ia tidak merasa nyaman dengan kita, mungkin ada yang salah dengan topeng yang kita pilih.

Aku selalu percaya bahwa karakter itu pilihan. Bukan takdir. Seperti sandiwara kolosal. Ada lakon antagonis dan protagonis. Tergantung bagaimana kita menyikapi. 

Malaikat diciptakan dari nur (cahaya) sehingga ia ditakdirkan untuk selalu melakukan kebaikan. Setan/iblis diciptakan dari api, simbol kemurkaan untuk ahli dalam kejahatan. Sedangkan, manusia diciptakan dari tanah. Tanah berada di tengah-tengah langit dan bumi, itulah mengapa manusia memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan buruk. 




Setiap wajah selalu berlomba-lomba menunjukkan topeng terbaik. Apa yang kita tunjukkan sekarang itu juga topeng. Menjadi pribadi yang tenang, santun, cerdas, cuek, pemarah, temperamen, atau sabar adalah pilihan. 

Aku yakin, bahwa orang-orang yang berkarakter kuat saat ini bukan begitu saja ia meraihnya. Perjalanan mereka pasti sangat panjang. Mulai dari mengenali diri, mengenali orang sekitar, mengaplikasikan hingga pertengkaran batin sudah pasti mengikuti. 

Nda mudah jadi orang baik, Nduk!
Begitu sebuah nasihat seseorang kepadaku. Baiklah, aku dan kamu mungkin bukan orang baik. Bisa jadi orang baik yang dipaksakan. Tapi bukankah kebaikan yang ada di dunia ini adalah kerja sama antara pilihan dan paksaan? Sebut saja habits atau kebiasaan. 

Seringkali aku menemui orang yang berpenampilan tenang, dewasa, santun. Ketika aku coba untuk sharing, ternyata memang tidak semudah itu untuk mencapai titik karakter hebat. Oya, karakter itu bukan faktor keturunan, tapi sudah bisa dipastikan bahwa karakter adalah pengulangan kebiasaan seseorang dari apa yang dilakukan oleh lingkungan. Dalam hal ini, pengaruh terbesar adalah keluarga.

Seorang anak akan memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan orang tua. Jika bapaknya seorang temperamen, bisa dipastikan ia juga temperamen. Begitu juga jika bapaknya seorang yang rajin mengaji, berbicara sopan, dekat dengan anaknya, maka dipastikan anak itu memiliki rasa penyayang lebih subur dari bapaknya. Istilah orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. 

Mengapa begitu?
Karena seorang anak berkiblat pada kebiasaan dan penerimaan yang diperoleh dari orang tua. Semua orang juga setuju jika lingkungan sosial pertama yang dimiliki seorang anak adalah keluarga. 

Dulu sekali, waktu aku akan pergi lomba pramuka. Kami naik sebuah truk menuju lokasi lomba. Kebetulan aku duduk di samping pak sopir. Saat itu, pak sopir bercerita mengenai anaknya yang masih sekolah, sebuah nasihat meluncur "Jika kamu tidak merubah pola pikir, maka kamu akan menjadi seperti bapak. Seorang sopir. Tapi kamu harus berkembang dengan kemampuanmu, jangan matikan pikiran hanya karena menyerah pada keturunan dan silsilah keluarga.". "Coba lihat anak kecil di seberang jalan itu. Sejak kecil ia sudah dibiasakan untuk meminta, ketika besar kemungkinan besar ia juga akan menjadi seperti bapaknya jika tak mau menggunakan pikirannya."

Ada pula seorang teman yang menurut teman lain, ia orang yang sangat menyebalkan, kekanak-kanakan, celometan, bicara ngawur, mau menang sendiri. Suatu ketika aku bertemu dengan adiknya, dan ternyata karakternya juga tidak jauh berbeda. Hanya dengan versi sedikit berbeda, tapi dasarnya sama. Pengamatan tidak berhenti pada adiknya, tapi aku perhatikan juga sikap ibunya. Owh...memang betul, ia benar-benar terbentuk oleh karakter keluarga. Saat itu aku hanya sekilas saja melihatnya, tapi dari cara ibunya memperlakukan tamu (kami, teman-temannya) terlihat sekali bagaimana perlakuan yang sama pula yang diterima anaknya, temanku. Kalau boleh disimpulkan, temanku ini membutuhkan pengakuan dari dunia luar, karena ketika di rumah ia masih diperlakukan seperti anak kecil. 

Oleh karena keluarga berandil penuh terhadap karakter seseorang, maka pengamatanku dilanjutkan dengan mengenali keluargaku. Bapakku, ibuku, kakak-kakakku. Disitu aku tahu, beberapa sifatku dominan ke bapak atau ke ibu. Bapak yang pekerja keras, humoris, dan mandiri sedikit tertular kepadaku. Ibuku yang penyayang, mudah tersentuh, bawel, keras kepala dan suka menyanyi juga tertular kepadaku. 

Hasil pengamatan tidak selalu terfokus pada sikap positifnya saja, tapi sikap negatif justru harus disorot besar. Sifat negatif adalah tunas karakter seseorang. Bila sikap negatif di-habitskan, maka bersiaplah untuk menjadi manusia paling menyebalkan. 

Setiap pagi aku selalu berdoa, 
"Ya Allah...pertemukan aku dengan orang baik dan orang belum baik yang bisa membaikkan aku."
Karena aku percaya, tidak ada orang baik dan orang buruk. Yang ada hanya orang baik dan belum baik. Mereka sama-sama memberikan kesempatan untuk kita belajar mengenali diri. Saat melihat orang baik, dalam benak berkata, aku harus bisa seperti itu. Begitu juga sebaliknya, aku jangan seperti itu, karena seperti ini rasanya dibegitukan.

Aku pribadi tidak begitu setuju akan nasihat "Be Yourself"
Menjadi diri sendiri itu baik, jika mempertahankan sifat baik. Namun menjadi tidak baik ketika yang ditonjolkan adalah sifat atau kebiasaan tidak baik. 

Aku juga kurang setuju pada ungkapan, "terimalah aku apa adanya". Masa iya, orang lain harus rela menerima sikap kita yang pemarah, pemalas, tak bertanggungjawab, iseng, rese, celometan, suka mencela atau suka datang terlambat?  Tentu tidak bukan?

Selalu ada hal yang dikorbankan untuk memperoleh kebaikan. Mungkin kita harus sering bertengkar dengan sikap atau habits lama untuk mencapai habits baru yang lebih baik. Tapi, tidak ada yang sia-sia kan jika itu berdampak respon positif lingkungan untuk kita? 

Islam mengajarkan kita untuk selalu meluangkan waktu khusus bermuhasabah. Bisa setelah sholat, sebelum tidur maupun di tengah malam. 10 - 20 menit saja, coba dirunut apa saja yang sudah dilakukan hari ini. Mulai dari bangun hingga menjelang tidur. Bayangkan kita menonton tayangan diri kita hari ini. Perhatikan juga sikap yang kita beri ke orang lain. Mungkin ada kata yang menyakitkan, raut wajah yang menyebalkan, sikap yang merendahkan. Gali terus. Rasakan, pasti ada rasa tak nyaman ketika kita mengingat perlakuan tak baik terhadap orang lain. Bagus, gunakan itu sebagai dasar untuk memposisikan diri sebagai orang yang kita sakiti. Dengan begitu, InsyaAllah kita lebih berhati-hati.

Baiklah, biar ku ulang. Setiap wajah adalah topeng terbaik dari diri. Kenapa begitu? karena jika kita buka topeng sedikit saja, mungkin tidak akan ada yang mau berkawan dengan kita. Pilih dan tempatkan topeng sesuai porsinya. Allah saja sudah menutupi aib kita, masa kita dengan gamblangnya membocorkan sendiri keburukan kita? Hidup ini hanya sekali, jangan pernah disia-siakan. Nikmati apa yang dimiliki dan tetap perbaiki diri. Ayo senyum. ^_^

Jumat, 13 Desember 2013

Ketika Seseorang Berkata Padaku

Seseorang berkata padaku, "Apakah kamu ingin jadi ustadzah?" 

Kalimat yang terlontar dalam sebuah percakapan SMS. Ketika aku mulai mencari informasi mengenai kursus mengaji atau informasi kegiatan keagamaan. Ditambah perubahanku dua bulan terakhir ini. Perubahan penampilan lebih tepatnya. 

Seseorang berkata kepadaku, "ketika kamu hendak memakai pakaian, pasanglah kancing dari bawah seraya berdoa agar pakaian yang kamu kenakan mampu mengangkat derajatmu." 

Sejak itu aku mulai menerapkannya. Arti filosofinya mungkin begini, ketika kita mengancing dari bawah dapat diartikan pergerakan untuk mencapai derajat tertentu selalu diawali dari level terendah, kemudian sedikit demi sedikit merangkak ke atas. Berdoa seperti itu menarikku untuk berpikir dua kali dalam berpakaian. Ketika pakaian yang ku kenakan terasa tak sepantasnya, maka akan timbul rasa malu. Masa iya, kita mengenakan baju tak patut tapi minta dinaikkan derajatnya? 

Seseorang berkata padaku, "Ketika bercermin hendaknya kamu berdoa agar Allah membaikkan akhlakmu sebaik Dia menciptakan dirimu."

Sama dengan berpakaian, kini aku mulai menerapkannya saat bercermin. Meski sering lupa juga. Ketika lupa dan segera ingat kelalaian, maka lekas-lekas aku berdoa sembari menutup mata agar tak melihat ke cermin dulu. 

Seseorang berkata padaku, "Ketika kamu marah, diamlah."

Pada dasarnya aku adalah seorang yang mudah meninggi. Mudah tersinggung dan mudah menyolot. Tapi juga mudah dingin. Ketika dingin, rasa sesal kerap muncul, akibatnya sering salah tingkah sendiri. Ketika ia berkata padaku, aku berusaha untuk menarik nafas panjang dan diam. Meski terkadang masih susah menjalankannya. Tapi alhamdulillah, emosiku sudah mulai bisa ditaklukkan. Lalu seseorang lagi berkata padaku, "Ketika marah, bacalah surat Al Ihklas sambil menarik nafas dan rasakan ayat-ayatnya memenuhi rongga hatimu. Lakukan 3x. Lalu ia melanjutkan, "Jadilah seperti surat Al-Ikhlas, ketika kamu ikhlas tak perlu diucapkan karena Al-Ikhlas pun tak pernah menyebutkan kata "ikhlas" dalam susunan ayatnya."

Lalu, seseorang berkata lagi padaku, "Kalau ada adzan, jangan berisik. Simak dan dengarkan, karena orang yang tak menghiraukan adzan nanti di akhirat dibuat tidak dengar ketika namanya dipanggil"

Langsung takut, entah benar entah tidak. Seyogyanya, yang ku tahu menghormati adzan adalah mendengarkan dan menyimak. Jadi, tak ada salahnya kan? Ditambah dengan membaca doa setelah adzan berkumandang. Makin sip! 

Ketika terjaga, aku berusaha berdoa agar diberi ketajaman intuisi. Peka terhadap nasehat, juga suka dengan kritik orang lain. Berbicara tentang kritik, jadi ingat pengalamanku dulu. Pagi itu, sembari bersiap kerja aku berdoa, "Ya Allah, lebarkan telingaku agar mampu menampung setiap kritikan, juga luaskan hati dan pikiranku agar tak mudah tersulut emosi sebelum benar-benar mencernanya dengan baik. Ketika sampai di tempat kerja, ada kritikan pedas yang ku terima. Entah karena doaku sudah di dengar atau kebetulan (Ah, tak pernah ada kebetulan), kala itu aku langsung diam dan berpikir. 

Terkadang, seseorang membutuhkan waktu panjang untuk sekedar bisa membaca gerak dan bekas yang ada pada diri. Aku pribadi masih tertatih-tatih dalam hal ini. "Who am I? " Pertanyaan ini selalu bergelayut manja. Kata orang, apa yang kita temui adalah apa yang kita lakukan. Semacam karma, mungkin. Seseorang juga pernah berkata, ketika ia mengalami hal tidak mengenakkan dari orang lain, seketika ia berbicara pada dirinya, "Apakah aku pernah memperlakukan orang seperti ini?"

Perlahan namun pasti, setiap perubahan besar selalu di awali yang kecil. Aku yakin. Semoga. 
Kini, aku tidak perduli dengan perkataan orang mengenai penampilan baruku. Terserah mereka mau bilang aku seperti guru ngaji, guru agama, atau apalah. Aku doakan semoga yang berkata begitu segera mengikutiku, karena dulu aku juga bersikap seperti itu terhadap mereka yang berpakaian tertutup. Nah...kan?

Ah..pe-er ku masih banyak. Amat sangat banyak. 
Percaya deh...Allah senang lihat hamba-Nya berusaha memperbaiki dirinya. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum tanpa ia berusaha merubahnya? 




Rabu, 11 Desember 2013

Tuhan, Ijinkan Ku Lihat Rupaku Dalam Cermin

Apakah selamanya aku menjadi aku?
Apakah watak adalah aku?
Apakah karakter adalah takdir?

Di pagi hari sebelum memulai aktifitas, sembari berbenah di depan kaca lemari kamar. Aku selalu menyisihkan waktu untuk berdialog dengan bayangan dalam cermin. Bayangan yang mereka sebut AKU. Sambil manggut-manggut menatap bayangan, ku selipkan doa, "Ya Allah, baikkan akhlakku sebaik Engkau menciptakan diriku". 

Doa lain yang selalu kubisikkan, "Tuhan, pertemukan aku dengan orang baik yang bisa membaikkanku." Dibalik doa itu beriring tanda tanya besar. Aku selalu bertanya balik pada refleksi dalam cermin, Tuhan, apakah orang-orang yang aku temui juga berdoa yang sama denganku? Apakah aku orang baik yang Engkau pilih atas jawaban doa mereka?

Aku percaya setiap perjumpaan adalah bagian dari catatan-Nya. Aku selalu berusaha untuk "mencuri" sesuatu dari setiap orang yang ku temui. Mencuri kesopanannya, mencuri keanggunannya, mencuri ketulusannya, mencuri kesabarannya, mencuri keriangannya, mencuri ketegasannya, mencuri kesederhanaannya, mencuri kewibawaannya, mencuri...mencuri...mencuri...

Aku akan terus berusaha mencurinya dari mereka. Oya, bukankah mencuri kebaikan seseorang tidak akan mengurangi kadarnya? Bukankah setiap kebaikan yang berhasil ditiru adalah amalan jariyah tak terduga baginya?

Aku harus menjadi pencuri...
Tak cukup pencuri hatimu saja. :D



Kamis, 14 November 2013

Filosofi Jahe Anget

Pukul 8 pagi kurang 1 menit. Aku sampai kantor. Seperti biasa, pria paruh baya ini menyambutku dengan senyum sumringah. Masih mengenakan sarung dan peci hitam yang terlihat tak baru lagi. Ku lihat ia beranjak membersikan sisa-sisa sarapan paginya. Lalu bergegas membukakan pintu untukku. "Sarapan, Mbak" sapanya. "Sampun [1], Pak" sahutku. "Masih sepi, Mbak. Barusan Bapak dan Ibu berangkat." sambungnya. "Iya, Pak. Baru saya yang datang. hehe Saya naik dulu, ya?" jawabku.

Ku langkahkan kaki menapaki satu persatu anak tangga. Masih gelap, ku tekan saklar bertuliskan "ruang kerja" pada potongan kertas putih berisolasi di atasnya. Cuaca Sidoajo memang masih panas, tak terkecuali di pagi hari. Sedikit keringat menetes saat berkendara. Ku nyalakan AC dan kipas angin biru tinggi besar di ujung meja. Kalau siang, dua malaikat berwujud robot ini terkadang tak membantu sedikitpun. 

Ku nyalakan komputer sembari meletakkan tas dan melepas jaket biru kesayanganku. Tak lama pria paruh baya itu menyusulku, "Mbak, mau wedang [2] Jahe? kemarin saya beli satu renceng di Giant. Saya kasih ke Tacik [3] sebelah sama satpam depan. Saya buatkan, ya?" ulasnya menawariku."Wah, enak itu, Pak. Saya mau." Jawabku tanpa basa-basi. 

Tak sampai 5 menit, Pria Paruh Baya itu datang kembali dengan secangkir jahe angat. Dengan piring kecil di atasnya. "Niki, Mbak. Spesial buat Mbak Tari. Lekas diminum, Mbak. Mumpung masih panas." tawarmya riang. "Uwaaa...sippp, Pak! hmmm...baunya enak," sambutku dengan sumringah. "Tapi nanti aja, Pak. Masih panas. Takut kepanasan. hehehe" sambungku. "Ya enak masih panas toh, Mbak. Anget di tenggorokan. Yauda, Saya mandi dulu, Mbak" ujarnya.

Sepeninggal Pria Paruh Baya itu, aku melanjutkan pekerjaanku. Menyiapkan flashdisk dan atribut penunjang kerjaku lainnya. Sesekali ku lirik cangkir coklat di sebelahku. Penasaran sekali dengan rasanya, tadi Pria Paruh Baya itu sempat menunjukkan bungkus kemasannya. Sekilas ku baca ada campuran krimernya. Aih, jadi makin penasaran. Ku raih cangkir itu, ku tiup beberapa kali di atasnya. Ku dekatkan ke mulut, sembari sesekali mencium aromanya. Nikmat sekali, ingin rasanya ku seruput.tapi lidah terasa kelu. Ada ketakutan muncul disana. Ketakutan akan rasa panas yang membakar di ujung lidah. Ku urungkan. Sekali lagi kucoba untuk menyeruputnya, tetap sama. Rasa takut itu muncul. Rasa penasaranku rasanya tak berujung, tapi terkalahkan oleh rasa takut. 



Lima belas menit berikutnya...
Ku raih kembali cangkir itu, ku usap kulit luarnya. Ah, sudah hangat. Pikirku merayu. Kunikmati kembali aroma nikmat jahe anget ini. Tangan kanan memegang cangkir, bertumpu tangan kiri memegang piring kecil di bawahnya. Kali ini harus ku coba. Ku seruput perlahan. Berhasil. Ku nikmati multi rasa di dalamnya. Pedas jahe dikombinasi dengan gurihnya krimer, dibalut dalam air yang menghangat. Nikmatnya... ku seruput kembali untuk kesekian kalinya. Rasanya enggan untuk meminumnya dalam jangka waktu panjang. 

Pikiranku terfokus pada setiap sensasi yang terjadi di dalam mulutku. Rasanya sama seperti pertama kali menikmatinya. Lidahku sudah mulai terbiasa, tapi tetap tak rela melepasnya. Kunikmati dengan mata terpejam. 

Tanpa sadar, otakku seakan menyentil untuk mengembangkan rasa. Rasa-rasanya seperti kehidupan. Terkadang kita terlalu takut untuk memulai hal baru, yang sebetulnya kita tahu bahwa itu baik. Tapi, pikiran negatif seringkali lebih kuat untuk menunda hal baik tersebut. Ketika kita mulai mencoba memasukinya, ada sensasi hebat saat pertama kali merasakannya. Sama seperti hidup, saat pertama mencoba mungkin kita akan bertemu dengan berbagai karakter orang-orang baru, tempat baru, suasana baru yang semuanya menuntut kita untuk bisa beradaptasi dengan mereka. 

Seruputan kedua dan seterusnya menjelaskan bahwa kita sudah merasa enjoy akan susana baru. Seringkali, kecocokan dengan orang atau tempat tertentu membuat kita setia mengulanginya meski sebetulnya mereka tak menjanjikan suasana baru yang lebih baik.

Di ujung seruputan, lekas-lekas kuhabiskan dan ku telan dengan anggun. Suatu saat, pertemuan dengan orang dan tempat yang sama ditambah suasana yang sama pula, akan membawa kita pada titik kejenuhan. Sehingga tak jarang kita akan mudah berpaling pada komunitas lain untuk mencari suasana baru  lagi.

Ah, apapun itu. Aku masih menikmati tetesan wedang jahe anget ini. Tak akan ku tolak jika pria Paruh Baya itu menawariku kembali. 



****
[1] Sampun : Sudah dalam bahasa Jawa
[2] Wedang : Minuman hangat, bahasa Jawa
[3] Tacik : Panggilan untuk perempuan Tionghoa yang lebih tua.

*Tulisan ini dibuat untuk belajar nulis lebih baik, terinspirasi dari blog  Mas Jul :D

Rabu, 13 November 2013

Monolog Jiwa

Tak bernyawa
Mati

Mungkin itu kata yang pantas untuk jiwa dan ragaku. Ketika semua anak seusiaku sudah menemukan gairah dan tujuan dalam hidupnya, aku disini terantai seonggok kemalasan. Boleh jadi aku hanya gadis pemimpi yang sangat buruk. Pemimpi. Hanya pemimpi. Berujung omong kosong dan nol besar. Aku tahu, ini tak bagus untuk dibiarkan berlarut.

Ketika aku berdoa pada Tuhan untuk dikirimkan malaikat penolong, aku tak berharap timbul rasa lebih dari teman disana. Aku selalu berdoa agar dipertemukan dengan orang-orang yang mampu menyeretku pada gairah level teratas.

Gairahku pada tulisan. Aku seorang gadis penghayal dengan milyaran hayalan konyol yang dengan begitu saja menguap ketika hendak diwujudkan aksara.

Gairahku pada agamaku. Berharap ada perbaikan akhlak. Mendewasakan diri, agar tidak larut dalam kecewa setelah berucap yang menyakitkan.

Allah Maha Baik.
Itu pasti. Dan kini, aku menunggu kebaikan-Nya kembali…

Memori Dalam Gendul

Kau punya kenangan? 
Aku harap punya. Dan pasti punya. 
Aku juga punya. Banyak malah, lebih dari satu.

Apa kau masih hidup dengan kenanganmu?
Kenangan indah atau bahkan kenangan bodoh yang ingin kau skip begitu saja? 

Kenangan itu kegilaan yang membentuk kita saat ini.
Kenangan bisa muncul dari banyak kejadian sepele tak terduga. Aku menikmati setiap tetesan hujan, meski sebetulnya tidak suka hujan. Apalagi ketika sedang berkendara. 

Bagiku, hujan adalah rangkain sengatan kenangan yang mengalir begitu saja. Terkadang sengatannya tinggi, terkadang juga rendah. Hujan mengingatkan hal bodoh beberapa tahun lalu, ketika dengan sengaja berhujan-hujan ria di danau dekat rumahku. Bukan danau, lebih tepatnya waduk pengolahan limbah industri. Tapi biarlah ku sebut dengan danau cinta. Ah, bodoh lagi kan? 

Jangan pernah membayangkan aku main hujan dengan  kejar-kejaran berebut pancuran hujan dari pipa air dari atap rumah. Aku hanya diam, menikmati tetesan hujan di ujung jilbabku. Sesekali mengelap lensa kacamata berembun yang sebetulnya sia-sia saja membersihkan, karena hanya memperburuk pandangan. Ya, aku hanya terdiam. 

Aku menikmati setiap tetes dengan pemandangan kabut putih hujan deras. Ditemani dengan pemancing berkerudung mantel hijau doreng yang tak ada niat sedikitpun memancing. Aku tahu karena setiap ada ikan yang tertangkap kail, pria itu akan melepaskan kembali. Sesekali melemparkan pada kucing di seberang.

Kenangan macam apa ini? Tak bermutu. 
Tak membuatku sedih. Aku bersyukur Tuhan begitu baik mengunci hati dari kesedihan bodoh. Entah betapa dewasanya aku hingga aku bisa menyalahkan diri sendiri atas kejadian masa lalu. Tuduhan atas kebodohan masa remaja. Ah, setidaknya lebih baik daripada berlarut menjangkaunya.

Kenangan tak bisa dilupakan, tapi sesekali boleh dikenang. Agar kita bisa menertawakan sandiwara hidup masa lalu. Pengalaman cinta masa remaja. Sebentar, aku ingin tertawa. Kini, aku tak sedikitpun mengharapnya kembali. Hanya gadis bodoh yang mau dan bertahan di kenangan masa itu. Hei, Itu artinya aku pernah jadi gadis bodoh. 

Memori Dalam Gendul

Apa kau punya gendul?
Eh, tahu tidak apa itu gendul? 
Kalau Jawa tulen pasti tahu apa itu gendul. Sini biar kuberi tahu, kata almarhumah nenekku dulu, gendul dalam bahasa Indonesia artinya botol. Nah, tahu botol kan? Ya, betul. Pinter.

Bicara tentang gendul, berarti bicara tentang wadah untuk menyimpn cairan. Entah cairan yang bisa dikonsumsi ataupun bahan kimia. Lalu korelasinya apa? Berbelit-belit. Bagiku, kenangan itu seperti cairan. Kita punya pilihan untuk menyimpan dan meletakkannya dimanapun. Aku sendiri lebih suka menyimpannya dalam gendul yang bisa kututup rapat dan melemparnya jauh ke laut lepas kehidupan. 

Suatu ketika, ombak bisa membawa ke tepi laut lalu meninggalkannya di pasir putih pantai. Itulah kenapa aku masih suka menemukannya. Tapi setelahnya langsung kututup kembali rapat-rapat. Kali ini ku tambahkan plastik di ujung kepala botol sebelum kupasangkan topi di atasnya.

Itulah, mengapa kita diminta mengingat Tuhan, karena dengan mengingat-Nya kebaikan pun mengikuti. Tidak seperti laut, pantai, tanah, awan, pelangi atau hujan, yang mengingatkan pada kenangan. 

Aku orangnya penakut. Lebih takut lagi ketika dihantui masa lalu. 

Rabu, 25 September 2013

Ada Kanan Ada Kiri

Manusia dalam perjalanannya untuk sampai ke bumi, begitu lekat dan jelas tertulis dalam Al Qur'an. Hakekat manusia diturunkan ke bumi pun juga jelas. Selalu ada pertanyaan, buat apa sih kita di bumi? Kalau manusia dianggap sebagai perusak, lalu mengapa diciptakan manusia? Rentetan pertanyaan pun akan terus berlanjut.

Bagiku, manusia tidak berbeda dengan panggung sandiwara. Hanya ada sedikit perbedaan, jika dalam panggung sandiwara mereka berakting harus sesuai dengan sinopsis, maka dalam sandiwara kehidupan, Allah memberikan sedikit kebebasan pada manusia untuk memilih. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum tanpa manusia itu sendiri yang merubahnya?

Mungkin dalam catatan Allah kita ditakdirkan sebagai orang yang miskin atau bodoh. Tapi sudah sunatullah bahwa dimana setiap ada usaha, selalu ada jalan. Orang Jawa bilang Gusti Allah pireng, Gusti Allah pirsa, lan Gusti Allah mboten sareh yang di-Indonesiakan menjadi Allah Maha Mendengar, Allah Maha Melihat dan Allah juga tidak tidur. 

Banyak motivasi yang muncul untuk memberikan semangat bahwa di luar sana ada lulusan SMA yang menjadi direktur ataupun orang berpendidikan di bawahnya bisa memiliki omzet Milyaran sampai Triliyunan. Ketika ditelusuri, selain mereka berkemauan keras dan perjuangan yang gigih, ternyata ada attitude baik yang dibangun sehingga Allah pun mempercayakannya untuk dapat memimpin para sarjana bekerja dalam perusahaannya. 

Mengapa ada kanan ada kiri? 
Selalu ada pilihan yang baik dan buruk. Anggaplah itu sisi kanan (kebaikan) dan sisi kiri (keburukan). Malaikat ditempatkan di sisi kanan kiri pundak kita memiliki tugas masing-masing. Kita diberi tangan kanan dan kiri, akan lebih sopan memberikan dengan tangan kanan. Makan dengan tangan kanan dan lain sebagainya. Itulah mengapa orang bilang bahwa everything is choice. Dimanapun kita berada, pasti ada dua pilihan. Ketika pulang kuliah, kita punya pilihan untuk langsung pulang atau pergi hang out dengan teman. Begitu juga ketika kita menunggu, kita punya pilihan untuk membaca atau mengobrol dengan orang. Sudah tentu dua hal tersebut memiliki dampak positif dan negatif.

Sebagai anak muda pun, kita memiliki banyak pilihan dan pertanyaan atas rasa ingin tahu. Seringkali kita jadi pasukan bebek yang suka mengekor dunia entertaint. Mulai dari fashion sampai life style. Teman yang saya temui pun beragam. Ada yang benar-benar hidup untuk dunia, ada yang hidup untuk bekal akhirat, dan ada juga yang berusaha menyeimbangkan keduanya. 

Agama tidak membatasi ruang lingkup pertemanan, tapi kita harus pandai menentukan mana yang bisa dijadikan teman dan sahabat. Islam juga mengatur agar kita tidak banyak mengeluh dan menceritakan kesusahan atau keburukan kepada orang lain kecuali untuk berkonsultasi dalam memperoleh pencerahan. Bukankah Allah sudah menutup aibmu? 

Setiap orang di dunia ini berlomba-lomba ingin bisa menjadi kaya. Apa kaya menjadi salah satu dalam daftar tujuan hidup kamu? Ya.Begitu juga saya.

Terkadang kalau sedang merenung, saya berpikir mau ngapain sih kalau sudah kaya nanti?
Mau makan enak di restoran mewah? Mau pergi ke luar negeri kaya keluar masuk rumah? Mau pakai baju mahal? Mau pakai mobil mewah? Mau punya gadget yang selalu up to date? atau mau punya rumah bertingkat 10? 

Sejatinya, kaya itu keadaan bebas dari segala tekanan dan kondisi pikiran yang luar biasa sehat. Kenyataannya, perut kita hanya akan menampung berapa kalori makanan saja meski yang kita masukkan adalah makanan mahal dan bervariasi. Bahkan sering kali kita tidak menghabiskan makanan yang kita beli dengan harga ratusan ribu, sedangkan di luar sana uang 100.000 bisa untuk makan orang 10? Saya sendiri terheran-heran dengan orang-orang yang dengan mudah mengeluarkan uangnya untuk membeli makanan yang sebetulnya kalau masak sendiri atau beli di warung rumahan bisa jauh lebih murah. Saya pribadi, masih suka berpikir berkali-kali untuk sekedar makan di warung yang agak "wah" dengan sajian makanan yang sering dimasakkan oleh ibu di rumah. Terlalu sayang bagi saya untuk membayar tahu crispy seharga 15.000. Mungkin Ibu saya akan berteriak gaduh kalau tahu saya nekat membelinya. 

Sama halnya dengan memakai baju atau jam tangan mahal. Fungsinya tak ada bedanya. Apakah ada jaminan bahwa jam mahal akan menunjukkan jarum waktu yang berbeda dengan jam yang dijual di lapak pinggir jalan? Kalau kita bisa membeli baju murah tetapi selalu rapi dan menyisihkan sisanya untuk disedekahkan, bukankah lebih baik begitu?

Dengan berduit kita bisa pergi ke luar negeri sesuka kita. Ya. Betul. Terus ngapain? Mencari kebahagiaan dengan pergi meninggalkan masalah itu bukan suatu solusi, terkadang ketika sedang mempunyai beban kita tidak akan bisa menikmati keindahan meski kita di tempat ramai dan indah sekalipun karena kita terfokus pada satu titik masalah itu.

Mungkin sekali-kali, bolelah kita memanjakan diri menikmati makanan mahal, baju mahal atau barang-barang mahal lainnya. Akan tetapi, alangkah baiknya bila kita menimbang terlebih dahulu manfaat dan tujuannya. Kalau dirasa kita tidak membutuhkannya, lebih baik jangan dibeli. Sekali-sekali jangan menuruti ego untuk membeli gadget pendukung gaya hidup hedonis. Seringkali, kita memberatkan orang tua dengan merengek gadget baru sehingga beliau harus rela berhutang untuk sekedar bisa membelikan kamera atau handphone canggih.

Saya tidak menyoroti mereka yang memang diberi kelebihan rejeki, saya juga tidak membenci orang kaya karena seperti yang saya bilang tadi, kaya ada dalam salah satu daftar tujuan hidup saya. Segala hal yang berlebihan selalu tidak baik jadinya. Maka, sebelum saya kaya, izinkan saya untuk menata diri. Berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya serta berpandai-pandai menentukan pilihan. Bukankah segala yang kita terima dan kita keluarkan akan dimintai pertanggungjawaban nanti? Allahu a'lam bis-shawaab.