Rabu, 13 November 2013

Monolog Jiwa

Tak bernyawa
Mati

Mungkin itu kata yang pantas untuk jiwa dan ragaku. Ketika semua anak seusiaku sudah menemukan gairah dan tujuan dalam hidupnya, aku disini terantai seonggok kemalasan. Boleh jadi aku hanya gadis pemimpi yang sangat buruk. Pemimpi. Hanya pemimpi. Berujung omong kosong dan nol besar. Aku tahu, ini tak bagus untuk dibiarkan berlarut.

Ketika aku berdoa pada Tuhan untuk dikirimkan malaikat penolong, aku tak berharap timbul rasa lebih dari teman disana. Aku selalu berdoa agar dipertemukan dengan orang-orang yang mampu menyeretku pada gairah level teratas.

Gairahku pada tulisan. Aku seorang gadis penghayal dengan milyaran hayalan konyol yang dengan begitu saja menguap ketika hendak diwujudkan aksara.

Gairahku pada agamaku. Berharap ada perbaikan akhlak. Mendewasakan diri, agar tidak larut dalam kecewa setelah berucap yang menyakitkan.

Allah Maha Baik.
Itu pasti. Dan kini, aku menunggu kebaikan-Nya kembali…

Daun Jatuh Tak Berteguh

Aku bagai daun jatuh yang mudah tertiup angin.
Aku mudah terbang dan berlalu begitu saja.
Tanpa ke-istiqomahan

Aku daun jatuh yang tak bernyawa
Mudah terombang-ambing
Mudah tertarik pada sesuatu,
Juga mudah menguap begitu saja.

Aku daun jatuh
Yang berlalu sendiri
Tak berkawan damai meski dengan diri sendiri

Aku daun jatuh
Yang mencari peruntungan dengan mencoba segala hal
Memiliki ratusan rencana yang berakhir omong kosong

Aku daun jatuh
Yang tak mampu menjaga lingkungan tempatku berteduh
Menyendiri, merasa kecil bagai tak bertuhan

Aku daun jatuh, yang tak berteguh…

Buku Antologi Pertamaku


SURAT KECIL UNTUK NEGERIKU
Oleh : Rahayu Lestary

Dear Indonesia,
Apa kabarmu?
Masih hijaukah hamparan tanahmu?
Masih ramahkah angin bumimu?
Masih merdukah suara gemericik pantaimu?
Masih bersahajakah langitmu?

Aku harap semua tetap seindah kisahmu dalam buku sejarah yang pernah ku baca.
Perkenalkan, aku Tari, ya kau bisa memanggilku dengan nama itu. Anak ingusan yang belum bisa memberi kebanggaan untukmu.

Indonesiaku, aku tahu ada beberapa kabar tentangmu yang sering ku dengar dan ku lihat dari televisi. Tentang bumimu, tentang manusiamu. Aku juga melihat ada banyak manusia yang mengumpatmu, mencemoohmu, memakimu, hingga membencimu. Mereka, yang mengaku sebagai "RAKYAT"mu sendiri yang bersikap seperti itu. Indonesia, mungkin jika engkau berwujud seorang ibu, tak akan ada lagi air mata yang keluar karena terlalu sering engkau menangis.

Seharusnya, bukan kau yang disalahkan. Indonesia, bukankah itu hanya nama suatu negara? Kau bukan berwujud manusia. Seharusnya, yang patut disalahkan bukanlah engkau, tapi manusia-manusia itu. Bukan juga pemerintah atau pejabat teras, karena manusia-manusia itu juga kan yang memilih mereka? Kamilah yang seharusnya disalahkan.

Kalau sekarang korupsi merajalela, siapa lagi yang disalahkan? Apakah engkau lagi Indonsia?
Tidak, kamilah yang sepantasnya disalahkan. Seringkali hal-hal sepele kami anggap wajar. Sogok-menyogok misalnya, dengan alih-alih agar segera beres, maka kita mewajarkannya.

Indonesia, banyak sekali manusia yang mencemoohmu. Berbagai lontaran dan protes yang divisualisasikan dengan berbagai aksi kerap ditunjukkan. Bukankah engkau, Indonesia tidak hanya milik pemerintah saja? Bukan juga milik beberapa orang. Tapi, kami, yang mengaku sebagai "RAKYAT" Indonesialah yang memilikimu.

Indonesia, jika engkau bertanya, malukah aku memilikimu?
Ku jawab,TIDAK. Aku bangga padamu. Aku bangga memilikimu.
Aku tidak malu berwarga Negara Indonesia...

Biar saja banyak orang yang membencimu, menghujatmu, memakimu, mencemoohmu melecehkanmu. Biar saja.. itu tidak mengurangi rasa cintaku. Biar saja mereka memanggilmu dengan panggilan yang jelek, biar saja!

Mengapa mereka, manusia-manusia yang membencimu itu tidak pergi saja? kenapa masih menggunakan produk-produk Indonesia? Mengapa masih mengibarkan bendera merah putih? Mengapa masih serakah meraup rejeki di tanahmu? Tidak adil rasanya. Sungguh.

Aku bangga berpijak bumimu. Negara yang kaya raya dengan banyak pulau, beragam suku, beragam budaya, beragam makanan dan beragam bahasa. Kepakkan sayapmu wahai Garuda, terbang dan tinggilah meluas cakrawalamu.

Aku yakin, dari sekian banyak yang membencimu, masih ada sisa-sisa manusia yang mencintaimu. Biarlah kami, bagian dari manusia yang tersisa itu yang akan menemani dan menghapus dukamu dengan semangat nasionalisme dan janji memerdekakan diri. Merdeka dari kebodohan, kemiskinan dan ketidakadilan.

Indonesiaku, maafkan kami, ijinkanlah kami membuktikan cinta dengan berada pada barisan manusia yang tersisa. Mungkin tidak banyak yang bisa kami beri, tapi percayalah kami bukanlah debu yang bila tertiup angin akan menutup keindahanmu.

Indonesiaku, selamat ulang tahun ke-68 ya,
Salam Sayang, aku yang merindukanmu, Tari.

Juara II Lomba Menulis Untuk Indonesia oleh Rasibook

Gie - Puisi Cahaya Bulan

Sumpah.
Aku jatuh cinta sejak pertama mendengarnya...


Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih selembut dahulu...
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah Mandalawangi...
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu...
Saat kudekap kau dekaplah lebih mesra...
Lebih dekat...
Apakah kau masih akan berkata...
Kudengar detak jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam Cinta...
-------------------

Cahaya Bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu
Dimana jawaban itu

Bagai letusan berapi
Bangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban... kegelisahan hati






Memori Dalam Gendul

Kau punya kenangan? 
Aku harap punya. Dan pasti punya. 
Aku juga punya. Banyak malah, lebih dari satu.

Apa kau masih hidup dengan kenanganmu?
Kenangan indah atau bahkan kenangan bodoh yang ingin kau skip begitu saja? 

Kenangan itu kegilaan yang membentuk kita saat ini.
Kenangan bisa muncul dari banyak kejadian sepele tak terduga. Aku menikmati setiap tetesan hujan, meski sebetulnya tidak suka hujan. Apalagi ketika sedang berkendara. 

Bagiku, hujan adalah rangkain sengatan kenangan yang mengalir begitu saja. Terkadang sengatannya tinggi, terkadang juga rendah. Hujan mengingatkan hal bodoh beberapa tahun lalu, ketika dengan sengaja berhujan-hujan ria di danau dekat rumahku. Bukan danau, lebih tepatnya waduk pengolahan limbah industri. Tapi biarlah ku sebut dengan danau cinta. Ah, bodoh lagi kan? 

Jangan pernah membayangkan aku main hujan dengan  kejar-kejaran berebut pancuran hujan dari pipa air dari atap rumah. Aku hanya diam, menikmati tetesan hujan di ujung jilbabku. Sesekali mengelap lensa kacamata berembun yang sebetulnya sia-sia saja membersihkan, karena hanya memperburuk pandangan. Ya, aku hanya terdiam. 

Aku menikmati setiap tetes dengan pemandangan kabut putih hujan deras. Ditemani dengan pemancing berkerudung mantel hijau doreng yang tak ada niat sedikitpun memancing. Aku tahu karena setiap ada ikan yang tertangkap kail, pria itu akan melepaskan kembali. Sesekali melemparkan pada kucing di seberang.

Kenangan macam apa ini? Tak bermutu. 
Tak membuatku sedih. Aku bersyukur Tuhan begitu baik mengunci hati dari kesedihan bodoh. Entah betapa dewasanya aku hingga aku bisa menyalahkan diri sendiri atas kejadian masa lalu. Tuduhan atas kebodohan masa remaja. Ah, setidaknya lebih baik daripada berlarut menjangkaunya.

Kenangan tak bisa dilupakan, tapi sesekali boleh dikenang. Agar kita bisa menertawakan sandiwara hidup masa lalu. Pengalaman cinta masa remaja. Sebentar, aku ingin tertawa. Kini, aku tak sedikitpun mengharapnya kembali. Hanya gadis bodoh yang mau dan bertahan di kenangan masa itu. Hei, Itu artinya aku pernah jadi gadis bodoh. 

Memori Dalam Gendul

Apa kau punya gendul?
Eh, tahu tidak apa itu gendul? 
Kalau Jawa tulen pasti tahu apa itu gendul. Sini biar kuberi tahu, kata almarhumah nenekku dulu, gendul dalam bahasa Indonesia artinya botol. Nah, tahu botol kan? Ya, betul. Pinter.

Bicara tentang gendul, berarti bicara tentang wadah untuk menyimpn cairan. Entah cairan yang bisa dikonsumsi ataupun bahan kimia. Lalu korelasinya apa? Berbelit-belit. Bagiku, kenangan itu seperti cairan. Kita punya pilihan untuk menyimpan dan meletakkannya dimanapun. Aku sendiri lebih suka menyimpannya dalam gendul yang bisa kututup rapat dan melemparnya jauh ke laut lepas kehidupan. 

Suatu ketika, ombak bisa membawa ke tepi laut lalu meninggalkannya di pasir putih pantai. Itulah kenapa aku masih suka menemukannya. Tapi setelahnya langsung kututup kembali rapat-rapat. Kali ini ku tambahkan plastik di ujung kepala botol sebelum kupasangkan topi di atasnya.

Itulah, mengapa kita diminta mengingat Tuhan, karena dengan mengingat-Nya kebaikan pun mengikuti. Tidak seperti laut, pantai, tanah, awan, pelangi atau hujan, yang mengingatkan pada kenangan. 

Aku orangnya penakut. Lebih takut lagi ketika dihantui masa lalu. 

Rabu, 25 September 2013

Ada Kanan Ada Kiri

Manusia dalam perjalanannya untuk sampai ke bumi, begitu lekat dan jelas tertulis dalam Al Qur'an. Hakekat manusia diturunkan ke bumi pun juga jelas. Selalu ada pertanyaan, buat apa sih kita di bumi? Kalau manusia dianggap sebagai perusak, lalu mengapa diciptakan manusia? Rentetan pertanyaan pun akan terus berlanjut.

Bagiku, manusia tidak berbeda dengan panggung sandiwara. Hanya ada sedikit perbedaan, jika dalam panggung sandiwara mereka berakting harus sesuai dengan sinopsis, maka dalam sandiwara kehidupan, Allah memberikan sedikit kebebasan pada manusia untuk memilih. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum tanpa manusia itu sendiri yang merubahnya?

Mungkin dalam catatan Allah kita ditakdirkan sebagai orang yang miskin atau bodoh. Tapi sudah sunatullah bahwa dimana setiap ada usaha, selalu ada jalan. Orang Jawa bilang Gusti Allah pireng, Gusti Allah pirsa, lan Gusti Allah mboten sareh yang di-Indonesiakan menjadi Allah Maha Mendengar, Allah Maha Melihat dan Allah juga tidak tidur. 

Banyak motivasi yang muncul untuk memberikan semangat bahwa di luar sana ada lulusan SMA yang menjadi direktur ataupun orang berpendidikan di bawahnya bisa memiliki omzet Milyaran sampai Triliyunan. Ketika ditelusuri, selain mereka berkemauan keras dan perjuangan yang gigih, ternyata ada attitude baik yang dibangun sehingga Allah pun mempercayakannya untuk dapat memimpin para sarjana bekerja dalam perusahaannya. 

Mengapa ada kanan ada kiri? 
Selalu ada pilihan yang baik dan buruk. Anggaplah itu sisi kanan (kebaikan) dan sisi kiri (keburukan). Malaikat ditempatkan di sisi kanan kiri pundak kita memiliki tugas masing-masing. Kita diberi tangan kanan dan kiri, akan lebih sopan memberikan dengan tangan kanan. Makan dengan tangan kanan dan lain sebagainya. Itulah mengapa orang bilang bahwa everything is choice. Dimanapun kita berada, pasti ada dua pilihan. Ketika pulang kuliah, kita punya pilihan untuk langsung pulang atau pergi hang out dengan teman. Begitu juga ketika kita menunggu, kita punya pilihan untuk membaca atau mengobrol dengan orang. Sudah tentu dua hal tersebut memiliki dampak positif dan negatif.

Sebagai anak muda pun, kita memiliki banyak pilihan dan pertanyaan atas rasa ingin tahu. Seringkali kita jadi pasukan bebek yang suka mengekor dunia entertaint. Mulai dari fashion sampai life style. Teman yang saya temui pun beragam. Ada yang benar-benar hidup untuk dunia, ada yang hidup untuk bekal akhirat, dan ada juga yang berusaha menyeimbangkan keduanya. 

Agama tidak membatasi ruang lingkup pertemanan, tapi kita harus pandai menentukan mana yang bisa dijadikan teman dan sahabat. Islam juga mengatur agar kita tidak banyak mengeluh dan menceritakan kesusahan atau keburukan kepada orang lain kecuali untuk berkonsultasi dalam memperoleh pencerahan. Bukankah Allah sudah menutup aibmu? 

Setiap orang di dunia ini berlomba-lomba ingin bisa menjadi kaya. Apa kaya menjadi salah satu dalam daftar tujuan hidup kamu? Ya.Begitu juga saya.

Terkadang kalau sedang merenung, saya berpikir mau ngapain sih kalau sudah kaya nanti?
Mau makan enak di restoran mewah? Mau pergi ke luar negeri kaya keluar masuk rumah? Mau pakai baju mahal? Mau pakai mobil mewah? Mau punya gadget yang selalu up to date? atau mau punya rumah bertingkat 10? 

Sejatinya, kaya itu keadaan bebas dari segala tekanan dan kondisi pikiran yang luar biasa sehat. Kenyataannya, perut kita hanya akan menampung berapa kalori makanan saja meski yang kita masukkan adalah makanan mahal dan bervariasi. Bahkan sering kali kita tidak menghabiskan makanan yang kita beli dengan harga ratusan ribu, sedangkan di luar sana uang 100.000 bisa untuk makan orang 10? Saya sendiri terheran-heran dengan orang-orang yang dengan mudah mengeluarkan uangnya untuk membeli makanan yang sebetulnya kalau masak sendiri atau beli di warung rumahan bisa jauh lebih murah. Saya pribadi, masih suka berpikir berkali-kali untuk sekedar makan di warung yang agak "wah" dengan sajian makanan yang sering dimasakkan oleh ibu di rumah. Terlalu sayang bagi saya untuk membayar tahu crispy seharga 15.000. Mungkin Ibu saya akan berteriak gaduh kalau tahu saya nekat membelinya. 

Sama halnya dengan memakai baju atau jam tangan mahal. Fungsinya tak ada bedanya. Apakah ada jaminan bahwa jam mahal akan menunjukkan jarum waktu yang berbeda dengan jam yang dijual di lapak pinggir jalan? Kalau kita bisa membeli baju murah tetapi selalu rapi dan menyisihkan sisanya untuk disedekahkan, bukankah lebih baik begitu?

Dengan berduit kita bisa pergi ke luar negeri sesuka kita. Ya. Betul. Terus ngapain? Mencari kebahagiaan dengan pergi meninggalkan masalah itu bukan suatu solusi, terkadang ketika sedang mempunyai beban kita tidak akan bisa menikmati keindahan meski kita di tempat ramai dan indah sekalipun karena kita terfokus pada satu titik masalah itu.

Mungkin sekali-kali, bolelah kita memanjakan diri menikmati makanan mahal, baju mahal atau barang-barang mahal lainnya. Akan tetapi, alangkah baiknya bila kita menimbang terlebih dahulu manfaat dan tujuannya. Kalau dirasa kita tidak membutuhkannya, lebih baik jangan dibeli. Sekali-sekali jangan menuruti ego untuk membeli gadget pendukung gaya hidup hedonis. Seringkali, kita memberatkan orang tua dengan merengek gadget baru sehingga beliau harus rela berhutang untuk sekedar bisa membelikan kamera atau handphone canggih.

Saya tidak menyoroti mereka yang memang diberi kelebihan rejeki, saya juga tidak membenci orang kaya karena seperti yang saya bilang tadi, kaya ada dalam salah satu daftar tujuan hidup saya. Segala hal yang berlebihan selalu tidak baik jadinya. Maka, sebelum saya kaya, izinkan saya untuk menata diri. Berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya serta berpandai-pandai menentukan pilihan. Bukankah segala yang kita terima dan kita keluarkan akan dimintai pertanggungjawaban nanti? Allahu a'lam bis-shawaab.


Jumat, 13 September 2013

Cinderella Cebol

Duduk disini, di kursi yang sama dan dengan komputer yang sama pula. Di usia yang memasuki 22, dengan emosi dan semangat yang meluap-luap seringkali memaksa untuk bertindak dan bertingkah yang berlebihan. Kepadatan emosi dan kelabilan berfikir, masih mengikat hati dan kaki untuk bisa berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Setelahnya, mungkin hanya bisa terdiam dan menghela nafas dalam sesal.

Tidak dibenarkan memaksa orang lain untuk ikut dan mau memahami apa yang kita maksud. Kalau sudah begitu, hanya kekalutan yang berselimut dan disusul dengan buliran air mata. Berteriak. Pada siapa? Pada angin? Sayangnya aku tidak tinggal di hutan, bahkan jauh dari hutan atau pantai. Mau ke pantai pun tidak punya cukup keberanian, karena banyak orang yang berwisata disana.

Sudah berapa malam merasa seperti ini? dan sampai kapan?
Berteriak juga tidak akan dihiraukan. Mungkin hanya ada sedikit balasan kaku yang diterima. Segumpal hati sudah diselimuti kelu, bercampur dengan cairan kental bernama ego, diaduk dalam adonan kegusaran. Tak terbendung, kapan benang-benang ini akan terurai? Aku tak tahu.

Tidak semua gadis bernasib sebaik Cinderella.
Mungkin, hanya temanku yang berteriak dalam tawa, hai Cinderella Cebol. Argghhh..dasar!
Biar ku ulang, tidak semua gadis bernasib sebaik Cinderella. Dimana dengan kebaikan seorang peri dia bisa bertemu dengan pangeran impiannya. Sekali lagi ku katakan, tidak semua gadis bernasib sebaik Cinderella.

Kenyataannya, aku bukan Cinderella. Aku tak hidup dengan ibu tiri yang sangat kejam, tak memiliki dua orang kakak tiri yang angkuh, juga tak sempat berkenalan dengan ibu peri yang baik hati.

Ya, saya bukan Cinderella.