Kamis, 10 Juli 2014

Woles Brrroooooo!!!

Aku selalu meyakinkan diri bahwa karakter adalah pilihan. Dalam Islam, karakter baik dinamakan akhlaqul karimah. Karakter baik datangnya dari Allah dan itu tak serta merta dihadirkan dengan instan. Pada dasarnya kita adalah sama, ketika dilahirkan semua dalam keadaan netral. Belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Pembentuk pertama ialah lingkungan terdekat, yakni keluarga. 

Beberapa hari ini aku sering diingatkan untuk bergegas. Bergegegas dan bergegas. 
Bergegas tentu berbeda dengan tergesa-gesa. Bergegas berarti menyegerakan, sedangakan tergesa berarti menunda. Itu artinya, tergesa adalah hadiah dari malas. Malas merupakan salah satu hawa nafsu. Jadi, nafsu itu tak cukup hanya nafsu makan dan nafsu dalam arti konotasi negatif lainnya. 

Aku sendiri merasa tertampar bila menerima hadiahnya. Menyesal dan menyesal saja. Selalu. Ughhhh... bahkan aku kesal pada diriku. Ternyata, menunda lima atau sepuluh menit saja pengaruhnya sudah besar sekali. Misalnya, selepas shalat subuh, kita memiliki dua pilihan. Pertama, bangun lalu melakukan pekerjaan rumah atau membaca buku. Ataukah kita melanjutkan bersembunyi di balik selimut hangat?

Satu hal yang kusadari, memilih tidur dengan waktu yang singkat dan hati yang tidak tenang justru membuat tubuh tidak semangat saat harus kembali beraktifitas. Belum lagi bila saat terlelap singkat tersebut kita mendapat mimpi yang tidak mengenakkan. Ah...lagi-lagi Rasulullah SAW benar...Selain berpengaruh pada rejeki, karena kondisi tubuh yang terlanjur "lemas" membuat kita malas untuk bekerja. Dengan malas bangun ternyata membuat kita melewatkan doa Rasulullah yang meminta keberkahan atas umatnya yang bangun di pagi hari. Wah, kalau Rasulullah sudah berdoa, tapi kitanya masih tidur, ya bablas ngowos aja tuh doa. Lebih parah lagi bila tidur yang tidak berkualitas tadi meninggalkan sisa-sisa kantuk dalam perjalanan. Nah, apa tak berbahaya tuh? 

Islam memerintahkan bergegas dalam hal apapun. Kalau dalam bahasa Indonesia disebut cekatan atau cakcek bila dalam bahasa Jawa. Bila kinerja seseorang diukur dari caranya makan, maka saya tidak setuju. Buktinya, Rasulullah saja kalau makan sangat menjaga betul tekniknya. Tidak tergesa juga tak melambat. Pas pada takarannya namun tetap terjaga kualitas kerjanya.

Menunda mengerjakan tugas kuliah itu merepotkan. Menunda pekerjaan untuk bikin KKP itu merepotkan. Menunda untuk mencuci motor itu juga merepotkan. Intinya, apapun yang ditunda itu merepotkan. Orang yang suka menunda pasti hatinya sering tak tenang karena sering tergesa. Adrenalin dan jantung terpompa dengan cepat. Pantas jika perangainya grusa-grusu. Naudzubillah....

Kini aku benar-benar menyadari betapa waktu yang diberikan Allah itu singkat sekali. Dalam 24 jam, berapakah waktu yang diberikan untuk Allah? minimal untuk tetap terkoneksi dengan kuat denganNya? 

Rabb...Aku tak pernah tahu berapakah jatah yang Engkau beri. Bisa tahun ini, bulan ini, minggu ini, hari ini, jam ini, menit ini, atau bahkan detik ini. Namun aku mohon Rabbi, berikan sisa usia yang berkah untuk membahagiakan banyak orang. Sadarkan bahwa kehidupan kekal membutuhkan perjuangan yang tak mudah. Khusyukkan shalatku, ringankan langkah dan hatiku menuju kebaikan. Rabbi...Rabbi...I`am yours...

Aih...sebetulnya tulisan ini dibuat sebagai pengingat dan pencubitku jika malas bangun atau menunda-nunda.

Bila karakter baik datangnya dari Allah, maka sudah seharusnya kita memintanya ke Allah. Sang Maestro pemahat diri kita. Semoga diringankan langkah kita untuk menyegerakan serta dilindungi dari sifat malas dan menunda. So, WOLES BRRROOOOOO!!!!!

AlamSemesta, 10072014
-SRSL-

Senin, 07 Juli 2014

Menceracau

Aku seorang pemimpi yang berharap bisa rajin lari pagi. Sebuah impian yang tercatat sejak dua tahun lalu. Impian yang selalu gagal bahkan sebelum terencana. Sepatu kets putih bulukan dan celana training yang berujung pengganti piyama setiap malam, seakan meronta karena tercabut haknya sebagai perangkat olahraga. Alas karet yang semakin mengeras dan lepas.

Aku juga memiliki aquarium berbentuk stoples yang telah pensiun fungsi dan tersimpan tak rapi di atas lemari pakaian. Sudah berapa nyawa yang tinggal di dalamnya. Mulai ikan hias yang hampir setiap minggu ada satu dua yang mati. Terakhir kunyatakan menyerah pada dua ekor kura-kura yang beranjak remaja. Seekor telah mati karena terbatasnya ruang gerak, menyadari semakin berdosa, maka kuputuskan untuk menitipkan pada seorang sahabat untuk dilepaskan ke kolam ikan pekarangan rumahnya. Apa kabar Bags? Pasti cangkangmu semakin besar dan keras. Kuku di selaput jarimu juga pasti semakin panjang dan tajam. Bags, nama kura-kuraku yang tersisa.

Saat masih kecil, aku memiliki seorang teman sekolah dan teman bermain di rumah. Orang tuaku yang berjualan di pasar, membuatku akrab bermain di sekitar pasar saat tak sekolah. Di depan pasar, ada komplek bangunan semacam Plasa yang gagal beroperasi. Setiap sore, aku dan temanku bermain disana. Bersepeda, lari-larian, bersenda gurau maupun tidur bergulung-gulung di pintu masuk yang memang bentuknya naik seperti gundukan. Hampir setiap sore kami menemukan bangkai burung emprit di dekat taman. Bermodalkan ranting kecil, kami berdua menggali sebuah lubang dan menguburkan bangkai di dalamnya. Kemudian, di atas kuburan kami taburkan daun-daun dan rontokan bunga bougenville. Terakhir, kami mendoakan agar arwah burung diterima Allah dengan iringan Surat Al Fatihah. Ah, anak-anak....

Aku bersyukur memiliki sepeda motor bebek tahun 2010-an. Sebuah sepeda motor yang sudah kugambarkan sejak lama warna dan bentuknya, hingga benar-benar terealisasi di tahun 2011. Sepeda yang hampir tidak pernah rewel meski setirnya sedikit bengkok ke kanan. Dia juga tak pernah berontak meski si empunya ini malas memandikan.

Aku masih menyimpan koleksi mainan hadiah dari chiki-chiki sejak jaman eS-De. Mulai koin perak hadiah snack Jari-Jari, pin, crayon tumpuk, kartu gambar Power Rangers, kuku-kuku palsu, gantungan kunci ada loncengnya, sticker blink-blink bentuk huruf, dan masih banyak lagi. Semua kusimpan dalam bekas wadah bedak bayi Rita. 

Aku orang yang suka sayang membuang barang, apalagi jika itu termasuk barang berharga. (Termasuk tiket nonton dan segala hal yang kuanggap bersejarah). Meski pada akhirnya barang-barang tersebut kubuang dengan sendirinya. Hahaha. Siapa yang bisa mengalahkan waktu? Tak terkecuali kenangan. Semua itu absurd, waktulah yang berkuasa. Satu hal yang pasti, bahwa tak ada yang tak pasti. Itu yang kuyakini. 

-SRSL-
AlamSemestaBergejolak, 08072014





Ketika Harus Memilih

Panggilan mereka pada beliau menunjukkan betapa banyaknya usia saya. Seperempat abad kurang dua tahun. Ukuran tubuh yang cenderung mungil, seringkali lupa bahwa sudah setua itu. Bahkan tinggi badan yang tak jauh berbeda dengan anak SMP membuat saya yakin bila masih imut. 

Ko, aku ngerasa belum mencapai apa-apa yah?

Pernah berpikir seperti itu tidak?
Pikiran itu sering kali menjalar liar tak karuan. Bila sudah kelelahan, aku hanya diam tak ingin berkata dan berpikir apa-apa. Terkadang, tidur pulas ialah mimpi yang menjadi nyata.

Menyadari usia Ibu dan Bapak yang tak lagi muda, membuat saya berpikir keras untuk membahagiakan lebih cepat. Tidak mudah, memang. Namun harus.

Bapak tak pernah mengajakku pergi tamasya. Terakhir, waktu masih usia enam tahun. Saat itu masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Bila temanku yang lain ditemani Ibunya, maka Bapak ialah pria yang setia memanggulku saat kelelahan mengelilingi arena bermain. 

Ibuku lebih memilih di pasar menggantikan tugas bapak berjualan. Entahlah, bila kutangkap, ibu mengalami semacam keminderan berinteraksi. Mungkin lingkungan itu yang menciptakan saya seperti ini. Lebih memiliki banyak teman di luar rumah daripada dekat dengan tetangga.

Ibuku sosok yang suka bercerita, sesungguhnya. Namun, kini aku kehilangan ke"cerewet"an tersebut. Kesibukan kerja dan kuliah yang menyebabkanku harus pulang malam, hanya bisa menemui ibu yang sedang tertidur pulas dengan dengkuran khasnya. Kini ku tahu, dengkuran itu yang kurindu.

Hidup selalu diliputi pilihan. 
Semuanya selalu beresiko. Menimbang tanggungjawab. Kupikir semuanya harus dipertanggungjawabkan. Memilih untuk mabit dengan teman-teman di kampus atau menemani ibu yang sedang sakit. Perih rasanya. Andai tak begitu diperlukan saat acara kemarin, maka aku akan lebih memilih menghabiskan akhir pekan di rumah.

Malam itu kukatakan pada Ibu, "Bu, saya berangkat ya? Nanti jam 22.00 wib saya pulang, jam 02.00 saya berangkat lagi. Kasihan teman-teman, Bu. Butuh semangat untuk tetap berjuang." 

Kulihat Ibu dengan sedih. Ibu yang saat itu tak berhenti menangis menahan sakit, membuatku semakin miris. Ah, andai tubuh ini bisa membelah. Ibu melepasku dengan iya yang dipaksakan. Aku tak tahu, mungkin dalam tangisan itu menetes pula kekecewaan atas sikapku. 

Pukul 21.30 wib.
Kutulis sebuah pesan singkat di notes catatanku untuk seorang teman.
"Mbak, nanti setelah ramah tamah aku pulang. Jam 02.00 balik lagi. Ibu sakit."
Dijawab anggukan yang berarti iya. Tak akan ada alasan yang menolak untuk itu.

Tiba-tiba layar handphone berkedip. "Yang Mulia Bapak" tertera di layarnya.

Aku beranjak keluar masjid untuk mengangkat telepon.

"Assalamu'alaikum... Iya, Pak?"

"Dimana, Nduk? Nda usah pulang, Ibu udah enakan"
Terdengar suara Bapak di seberang, tak lama disusul suara parau Ibu.
"Ibu sudah enakan, nda usah pulang. Lanjutkan dulu kegiatanmu."

Ada rasa bersalah disitu. Bisa jadi itu hanya ungkapan kasihan karena tak tega melihatku bolak-balik di tengah malam. Tak tenang. Masih.

Alhamdulillah, mabit bulan ini sungguh menyulut semangat untuk terus mengajak beribadah bersama. Meski tujuh orang teman sekelas yang menyatakan hadir, namun ternyata hanya satu orang saja yang diberi rezeki sempat. Namun beberapa peserta yang hadir mengajak teman yang lainnya. Jadi, perhitungan awal tercapai 30 orang peserta, Alhamdulillah tercukupi. Semoga diberikan hidayah yang lebih lagi untukmu. Sahabatku yang lain, semoga diberi rezeki sempat. 

Keesokan harinya, aku bergegas pulang untuk melanjutkan kegiatan dengan teman Forum Lingkar Pena. Lagi-lagi aku harus memilih.

Ibu ternyata masih lemas. Ingin sekali kuurungkan untuk tak ikut kegiatan. Namun, mengingat sudah mengiyakan di pembagian tugas kemarin, membuatku tak enak dengan teman yang lain. Berpikir keras dan menimbang-nimbang lagi. 

Akhirnya... Kuputuskan untuk mengikuti kegiatan dengan memastikan pulang jam 13.00 WIB.

Kegiatan tetap berlangsung namun hati tetap tak tenang. Teringat Ibu selalu.

Selepas kegiatan, aku langsung pulang. Kulihat ibu masih menangis kesakitan, kupeluk ibu dan kuajak tidur. Kujanjikan nanti pukul 16.00 sore untuk mengantar berobaT.

Tiba saatnya berobat. Ujian sabar di depan mata, kami harus menunggu antrean sampai pukul 19.00 WIB. Setelah keluar dari ruang periksa, Ibu mendadak terduduk lemas di kursi tunggu. Ibu pingsan! Masya Allah.... Kupeluk ibu, kucoba bangunkan. Sekitar lima menit ibu tak sadar, setelah menunggu ibu benar-benar kuat untuk berjalan, kamipun pulang.

Sesampainya di rumah, Bapak sudah gelisah karena tak dapat menghubungiku, handphone-ku tertinggal di rumah. Apapun yang terjadi, alhamdulillah... syukur atas kasihMu.. Bila tanpa pertolonganMu, tentu tak dapat lagi kupeluk ibu.

Hidup. Ya hidup.
Selalu memilih. Selalu beresiko. Semoga kita semakin bijak dalam mengambil keputusan...

Allah lagi...lagi...dan lagi.

-SRSL-
Alam Semesta, Juni 2014






Senin, 23 Juni 2014

Dewi di Pagi Hari



Pagi ini masih gelap dan basah. Hujan dini hari tadi masih meninggalkan sisa untuk mengawal hari yang kutaksir super sibuk. Seperti kata orang sok bijak dalam status sosial medianya, kusetting sugesti semangat it's monday. money day not monster day. 

Diiringi lagu Pasti Bisanya Citra Scholastica, kuayunkan langkah menuju kamar mandi. Hujan tak hanya menyisakan mendung dan basah, namun hawa dingin ikut menjalar pula pada air dalam bak mandi. Aku mulai terbiasa mandi dengan air coklat Bengawan Solo. Menjadi Pegawai Negeri di saah satu instansi pemerintahan Gresik, membuatku harus terbiasa dengan hawa pedesaan. Kantorku di tengah kota, namun Ayah tak mengijinkanku untuk kost. Aku tinggal dengan saudara Ayah yang kupanggil Pakwak, panggilan lain untuk Pakdhe.

Samar-samar terdengar suara tetanggaku meneriaki anak semata wayangnya untuk bergegas mandi. Dewi namanya. Anak yang lincah dan aktif namun pemalu. Dia suka berdiri mengintip di depan pintu ketika aku bermain laptop. Bila tertangkap pandanganku, maka Dewi akan pergi dengan suara cekikikan. 

Pernah suatu sore, saat aku memainkan games di laptop, sengaja kukencangkan musiknya agar Dewi tertarik. Tepat seperti dugaanku, dengan kebiasaannya ia mengintipku yang asyik bermain. Aku berpura-pura tak memperdulikan kehadirannya, hingga akhirnya Dewi memberanikan diri mendekatiku. Kulirik, kembali cekikikan. Kali ini dia tak berusaha lari, dengan meremas kaos bagian bawahnya, malu-malu ia menempel di sofa tampatku duduk.

Kubiarkan saja dia mendekat, “Dewi mau coba main?” tawaranku.
Tawaranku dijawab dengan cengiran manja. Kuarahkan layar monitor kepadanya, dengan malu-malu ia mendekatkan tangannya meraih keyboard. Dewi memang anak yang cerdas. Sedikit saja kujelaskan dia sudah paham. Selanjutnya, ia asyik bermain games Angry Birds.

“Dewi kalau besar mau jadi apa?”
“Kata ustad Ali anak-anak harus jadi anak solehah, Mbak. Aku mau jadi anak solehah” Jawabnya tanpa memalingkan konsentrasi dari laptop.

Dewi seperti anak pada umumnya. Rutinitasnya tak jauh-jauh dari pergi sekolah, bermain dan mengaji. Namun yang membuatku kagum, meski baru berusia delapan tahun, sholat fardhunya tak pernah terlewat sekalipun. Belum lagi semangatnya untuk sholat berjamaah di musholla kecil ujung gang. Pernah sekali, saat itu hujan turun dengan derasnya. Setengah jam sebelum waktunya sholat, Dewi sudah siap untuk bergegas ke Musholla. Dengan mengayuh sepeda usang pemberian tetangganya, ia berlomba melawan hujan. Ibunya kembali meneriaki untuk sholat di rumah saja. Namun, Dewi keukeuh ingin sholat di Musholla. Setelah itu, kulihat dua butir cairan bening jatuh di pipi ibunya. 

Kebiasaan-kebiasaan tak wajar itu seolah menjadi tamparan bagiku. Aku yang mengaku muslimah, berjilbab lebar, berbaju longgar, kemana-mana bawa Al Qur`an di tas. Namun ternyata perjuanganku tak sehebat Dewi dalam menunjukkan rasa cinta. 

Dewi tinggal dengan bapak dan ibunya yang sudah tak pantas untuk memiliki anak seumurannya. Orang yang belum tahu selalu mengira ia adalah cucu mereka. Bapaknya menderita stroke ringan setahun terakhir ini. Sehingga ibunya terpaksa harus bekerja di toko bakery dekat rumahnya. Bapaknya yang sudah senja itu suka gampang marah namun juga gampang menangis, kalau kata orang Jawa menyebut nelongsoan. 

Ketidakmampuannya dalam memenuhi kebutuhan keluarga, sepertinya mudah menyulut karakter pemarahnya. Apalagi sekarang bertambah dengan sikap curiga dan cemburu pada istrinya. Tak jarang terdengar suara tangisan ibunya Dewi di tengah malam.

Jam tangan biruku telah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Kerudung pun sudah terpasang rapi menutup kepala. Kupastikan kembali dandananku di depan cermin lemari kamarku. Tiba-tiba terdengar tangisan histeris melebihi biasa. Aku kenal sekali itu suara ibunya Dewi. Awalnya aku cuek saja, karena kuanggap hanya pertengkaran kecil seperti biasa. 

Selang waktu lima belas menit kemudian terdengar informasi berita duka dari corong Mushola. "Innalillahi wainailaihi raji`un... Telah berpulang ke rahmatullah saudara kita, Bapak Moh. Akbar...."

Aku mengenal suara itu, suara Pakwak. Kuputuskan untuk keluar berhamburan dengan tetangga yang lain. Ternyata tetanggaku sudah banyak berkumpul karena memang semua warga disini masih terhubung tali saudara. Ibu Dewi tak terlihat, hanya suara tangisnya saja yang menunjukkan ia berada tak jauh dari jenazah suaminya. 

Lalu Dewi dimana?
Ia terlihat lahap menghabiskan sarapan paginya dengan nasi putih dan tempe goreng di teras rumah. Seolah cuek. Ah, anak itu. Keluarga yang melihatnya semakin terharu dengan kepolosannya. Seusai makan ia kembalikan piring bekasnya ke tempat cucian. Lalu meraih tas ransel bututnya. 

"Mau kemana, Nduk?" tanya ibunya saat Dewi berpamitan
"Sekolah, Bu"

Jawaban itu meledakkan kembali suara tangis ibunya. Dewi dengan raut muka yang berubah menjadi bingung, lantas memeluk ibunya sambil berkata, "Sudah, Bu...Sudah. Jangan nangis, Dewi nanti selesai sekolah langsung pulang ke rumah. Sudah ya, cup...cup...cup... jangan menangis." ujarnya polos.

Aku dan orang-orang yang melihat kejadian itu merasa terharu namun juga geli. Dewi benar-benar polos. Seumuran dia, belum paham mengenai kehilangan. Yang ia tahu kematian adalah pergi untuk selamanya. Namun, hanya sekedar tahu tanpa mampu mengerti maksudnya. Larangan ibunya untuk tak berangkat sekolah disambut dengan riang. Ia letakkan kembali atribut sekolah dan berganti dengan pakaian rumahan lalu kembali berlari-lari cekikikan menggoda tetangganya. Ah, Dewi...Semoga kau jadi anak solehah. 

***********************************************
-SRSL-
Alam Semesta, 13062014



Aku Menulis Cinta

Ada banyak cara cupid menancapkan panahnya. Salah satunya dengan bertemu dan berbincang. Sudah dari sananya bila rasa suka timbul dari intensitas pertemuan dan interaksi. Mungkin itu pula alasan Islam memberikan batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

Lelaki memang seringkali harus berpikir sebelum bersikap. Dan sayangnya, perempuan seringkali salah tingkah menangkap kebaikan lawan jenis. Andai dibiarkan bergaul tanpa memberikan batasan, maka resiko "gampang suka" pun semakin tinggi. Aihyaa...jadi ingat sebuah nasihat, "Jangan mudah jatuh cinta, nanti hati yang merana. Jangan mudah menerima, nanti diri sendiri yang memendam kecewa"

Cinta sejati bukankah tak cukup ditandai dengan lancarnya komunikasi melalui dunia maya? Ya BBM, ya SMS, ya Line, ya Kakao, dan...lain sebagainya. Cinta sejati pun tak cukup ditandai dengan memasang foto profil berdua. Apalagi sampai membuat status yang bikin risih tetangga. 

Jadi ingat betul saat masih jaman sekolah. Mungkin karena ke-lelakianku yang bikin saya nyaris nda laku di pasaran. Lima belas tahun di bangku sekolah, dihitung sejak taman kanak-kanak. Rasanya hidup saya sepi dari pergunjingan masalah lope-lope. Eh, jangan dikira saya adem ayem aja ngerasa begitu. Ngiri juga sebenernya sama temen-temen yang laku laris manis. 

Kadang pengen juga ngerasain nangis di kelas setelah diputusin pacar, lalu teman-teman yang lain coba menghibur. Jurusnya nda jauh-jauh amat dari kata sabar dan jodoh nda kemana. Belum lagi tiap hari ada tukang ojek yang dengan setia mengantar jemput. Malam minggu nge-mall bareng, nonton Dealova atau film-film yang dianggap romantis kronis. Kalau kebetulan pacarnya satu sekolah, kalau istirahat bisa makan mie ayam bareng di bawah pohon asem. Apalagi kalau cinlok pacaran sekelas, bisa duduk sebangku dan tangan nda lepas pegangan. Ah, anak-anak. 

Teman-teman saya rata-rata yang gampang banget dapat pacar dan gampang banget putusnya, bisa dipastikan punya paras dan body yang aduhai. Eh, kadang ya nda begitu aduhainya, sih... Cuma mungkin mereka lebih tahu dulu ilmunya menggaet lawan jenis, makanya lebih mudah punya pacar. Beda sama saya yang cupu sukanya panas-panasan pake seragam coklat dan suka kejar-kejaran sama anak cowok di lapangan sekolah sambil cekakakan. 

Hmmm....
Empat tahun tak terasa sudah melewati masa SMK. Undangan pernikahan sudah terkumpul banyak. Yap, teman saya sudah banyak yang menikah. Bahkan, beberapa diantaranya sudah punya anak lebih dari satu. Oya, yang menjadi suami mereka rata-rata orang baru, bukan salah satu dari para tukang ojek yang setia dulu. Disini saya bersyukur, rupanya ada banyak lakon hidup yang Allah beri untuk saya. Ada beribu kesempatan yang mungkin tak dapat dirasakan oleh teman-teman yang sudah lebih dulu berkeluarga.

Berbicara tentang cinta, sepertinya tak ada habisnya. Mulai lagu, film, sinetron, kisah wayang, kisah Dewa. Pasti nda pernah luput dari kisah percintaan. Orang bilang, sebuah cerita akan mati bila tak dibumbui dengan percintaan. Bahkan, cerita anak-anak pun dibumbui dengan kisah cinta. Lihat saja dongeng Cinderella, Putri Salju, maupun kisah Rapunzel.

Bila cinta memang tak dihadirkan melalui keindahan fisik, maka cinta ditumbuhkan dari kecocokan jiwa. Hal itu berkaitan erat dengan kenyamanan, dan kenyamanan sendiri tidak dapat dibeli dengan harta, popularitas atau paras. 

Mungkin itu yang membuat lelaki di luar sana lebih memilih wanita sederhana namun indah akhlaknya. Sosok yang tak hanya cukup dianggap pantas diajak kondangan, namun lebih pantas dijadikan istri dan ibu bagi anaknya. Seseorang yang tak hanya memikirkan kemajuan dirinya, namun ia adalah sosok yang menyibukkan dirinya untuk kepentingan orang banyak. Keluarga, agama, pendidikan dan lingkungannya. Mungkin terlihat sok sibuk bahkan lupa memperhatikanmu, namun itulah kesederhanaannya mencintaimu. Mungkin juga ia tak mampu memberikan apa yang kau mau, namun ia selalu berusaha memberikan apa yang kau butuhkan.

Allah itu Keren, dan aku percaya...
Jangankan urusan yang besar, urusan remeh temeh seperti memberi bagian makan semut pun Allah yang urus. Apalagi urusan jodoh kita, percaya deh... Allah sudah menulisnya di Lauhul Mahfudz, bahkan sebelum kita dilahirkan ke dunia. Sekarang, tergantung bagaimana kita menjemput jodohnya. Apakah dengan merengek dan merendahkan diri atau dengan menyibukkan diri untuk memperbaiki? Apakah kita menjemputnya dengan cara yang baik atau justru sebaliknya? atau apakah kita hanya berharap kepada Allah atau justru mengiba pada manusia?

Proses inilah yang akan menentukan catatan sebagai dosa atau pahala. Proses ini pula yang menentukan seberapa baik jodoh kita. Bukankah ayat Allah dalam surat An Nur ayat 26 sudah jelas tertulis? Orang baik untuk orang baik, orang tidak baik untuk orang tidak baik. Meski ini bukan janji Allah untuk jodoh yang baik bagi mereka yang baik. Tapi, ayat itu memperingatkan kita untuk lebih selektif memilih pasangan. Kenyataannya, sering terjadi orang yang baik justru mendapat yang tidak baik. Namun, itu semua takdir Allah, apa sih yang tak mungkin bila Allah berkehendak membaikkan hambaNya?

Nah, makanya kalau jatuh cinta diam-diam saja. Menyampaikannya juga diam-diam saja. Bisik-bisik saja sampai hanya Allah yang dengar, lalu selipkan doa untuk dia yang terbaik disana. Bukankah cinta yang tak disampaikan tetap saja disebut cinta? 

Ah...
Semoga kita bisa menjemput jodoh dan rizki dari Allah dengan cara terbaik yang disukaiNya. Hingga keberkahan hidup dapat kita nikmati di dunia juga di akhirat kelak. Aamiin...

******************************************
-SRSL-
Alam Semesta, 23062014
DalamLautanPetang

Minggu, 01 Juni 2014

Kembali Aku Belajar

Selalu ada hikmah dibalik kejadian...

Dimainkan jalan selama tiga jam bukanlah waktu yang singkat. Perjalanan yang seharusnya cukup ditempuh dalam waktu tiga puluh menit molor menjadi tiga jam. Apapun, tetap bersyukur. Masih diberi kesempatan belajar sabar.

Jadi ceritanya, hari Minggu kemarin aku hendak membesuk seorang sahabat yang menjadi korban kecelakaan. Bertekad baja dengan keberanian yang diberani-beranikan, aku memutuskan untuk mencari rumahnya sendirian. Sebelumnya aku sudah pernah kesana, namun percayalah aku bukan penghafal jalan yang handal. 

Belum-belum perjalanan diawali dengan salah jalan. Alamatnya di daerah Sukodono. Berbekal pesan singkat berisi rute dan alamat, aku pun berangkat. Rute pertama disebutkan daerah Kletek. Dari kampus aku langsung meluncur dengan yakin menuju arah Sidoarjo Kota. Kecepatan 60km/jam tak menjadi beban. Dengan perasaan yang meyakinkan diri, namun tetap terjadi keributan di hati. Ko, perasaanku nda enak yah? Bisikku dalam hati. Namun tetap berpacu sambil menggambarkan rute. Tepat di daerah Sruni, aku tersadar. Glek! Kletek kan seharusnya ke arah Sepanjang. Segera kucari jalan putar balik. Masih dengan semangat 60km/jam, kupacu menuju arah kletek. 

Rute kedua diminta "setelah dari Kletek lurus saja sampai Kecamatan Sukodono"

Baiklah, kutarik kembali gas motor. Tiba-tiba adzan Maghrib berkumandang. Maka kuputuskan merapat di Masjid daerah Bungurasih. Subhanallah... masjidnya cantik sekali. Bergegas mengambil wudlu untuk mengejar sholat berjamaah. Seperti masjid pada umumnya, ada pembatas bagi jamaah wanita dan pria. Wanita sebelah kiri dan pria di sebelah kanan. Tampaklah seorang makmum perempuan bermukenah putih. Tapi ko kecil ya? Sudah, tak ada waktu untuk menerka-nerka. Segera kukenakan mukenah biru kesayanganku dan kurapatkan tubuhku pada sebuah tubuh yang tinggi kepalanya tak sampai di pundakku.

Selepas sholat, kutengok jamaah di sebelah kananku. Aih, manis sekali. Seorang gadis kelas satu sekolah dasar. Putri namanya, datang dengan ibunya yang menunggu di bawah dengan adiknya. Mereka berasal dari Lampung dan sedang ke Sidoarjo mengunjungi saudaranya. "Putri, ini buat kamu" Kusodorkan sebuah pensil kayu warna kuning. "Terima kasih, Tante...bagus pensilnya." ucapnya ceria. "Tante tempat mukenahnya bagus, ada kacanya."

Putri yang riang mengajakku ngobrol bertanya ini dan itu. Selesai kurapikan mukenah dan kerudung, kami pun turun. Sebelumnya, kami sempat berpelukan dan kuselipkan sebuah pesan "Sekolah yang pintar ya, jangan lupa sholatnya dijaga. Kamu hebat, ngalahin Tante waktu seumuran kamu" 

Ahh...
Belajar bisa dimanapun dan kapanpun. Aku tahu, Allah sedang mengirimkan seseorang untuk menambah keimananku. Menambah kecintaanku untuk tak mau berpuas diri mendekat pada-Nya.

Perjalanan berlanjut. Tak lama kemudian kubaca beberapa plang nama toko beralamatkan Kletek. Yes! Tinggal mencari Kecamatan Sukodono. Begitulah isi pesan rute ketiga, Kecamatan Sukodono. Lebih berhati-hati dan waspada ku tengok kanan kiri untuk mencarinya. Perjalanan terasa panjang, berkejaran dengan Bus dan kendaraan pribadi yang serampangan. Kletek semakin menjauh dan sampailah di By Pass Krian. Huftt... pantas saja kendaraan-kendaraan ini bagai kesetanan. Perasaanku semakin tak enak. Masa iya sejauh ini? Selama perjalanan sudah berkali-kali bertanya pada orang di pinggir jalan. Mereka selalu berkata, "Oh, masih terus, Mbak." 

Terakhir, kutanya pada seorang Bapak perkasa yang sepertinya baru pulang dari sawah. Dari Bapak ini baru kusadari kalau sudah tersesat jauh sekali. Bapak tersebut menyarankan untuk masuk gang depan, tak lupa mengucap terima kasih lantas kuikuti sarannya. Perjalanan baru ini menyusuri sebuah sungai di sebelah kanan jalan. Angin yang meniup air sungai membiaskan udara dingin pada pukul tujuh malam itu. Kususuri jalan sambil menikmati hawa sejuk dan pemandangan hijau. Suasana pedesaan masih terasa disini. Aroma dedaunan yang dibakar, logat warga yang masih kental, bentuk rumah dengan halaman luas, warga yang berbondong sholat jamaah ke masjid, ataupun tumbuhan liar yang masih kutemui di sepanjang jalan. Krian memang bisa disebut desanya Sidoarjo.

Adzan Isya berkumandang. Kembali kuputuskan mampir pada sebuah masjid yang sedang direnovasi. Tampak jamaah pria dan wanita lebih banyak dari masjid yang pertama tadi. Seperti masjid pada umumnya, jamaah wanita selalu diisi dengan ibu-ibu dan mbah-mbah (nenek-nenek). Segera kukenakan kembali mukenah biruku dan mengambil shaf dibelakang. Selalu saja ada yang berbaik hati membagi sajadahnya untukku. Selepas salam terakhir dalam sholat, kucium tangan mbah-mbah di sebelahku. Senyum ramahnya menunjukkan gigi yang sudah tinggal beberapa saja. Namun sempat kurasakan gerakan sholatnya yang tak tertinggal dengan jamaah yang lain. Apa itu kunci kekuatan tulangnya? sholat berjamaah. 

Si Mbah menanyaiku hendak kemana, lantas kuceritakan perjalananku, aih...Ibu-ibu yang lain ikut peduli mendengar kisahku. Mungkin kasihan melihatku yang sudah berdempul keringat dan asap jalan. Mereka menunjukkan simpatinya kepadaku dengan penuh perhatian. Senyum yang tak lepas dari wajah. Ah, selalu kutemukan orang baik di dalam masjid. Ya Allah...berilah keberkahan pada sisa usia mereka. 

Demi mengejar jam yang terus berpacu, segera kubergegas melanjutkan perjalanan. Saat kupasang masker sempat kulirik Si Mbah mengantarku sampai di serambi masjid. Melanjutkan perjalanan mencari clue berikutnya, Bidan Kartini belok kiri. Kata ibu-ibu di masjid tadi, untuk sampai di Desa Pekarungan aku tinggal mengikuti jalan utama sampai ada lampu merah, lalu belok kanan. Lagi-lagi aku tersesat dan tak yakin. Aku bertanya pada bapak penjual bakso dan diarahkan kembali ke rute yang berbeda. Kuturuti sarannya, namun sampai jalan habis tak juga ku lihat plang bertuliskan "Bidan Kartini". Akupun kembali bertanya dan diarahkan untuk putar balik. Kali ini dengan ekstra hati-hati dan waspada yang makin terasah, kupelankan laju motor sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Nihil. Sebelum putus asa mencuat, kembali aku bertanya, "Mas, Bidan Kartini sebelah mana?" tanyaku. "Lha itu Mbak, kan ada tulisan bidan?" jawabnya. Kutengok arah yang dimaksud, "Lho, itu bukan Bidan Kartini, Mas". Si Mas ikutan ragu, "Ya itu bidannya mbak, dikenalnya Bidan Kartini" 

Glek! Ceguk! Ceguk!
Malu bertanya memang sering bikin sesat di jalan. 

Hatiku rasanya sudah sedikit lega, karena seingatku setelah ini belok ke kiri sedikit lalu masuk gang kecil ke kanan. Demi meyakinkan agar tak tersesat lagi, aku bertanya pada dua mbah yang sedang bercengkerama. Alhamdulillah... kali ini feeling ku pas, tepat dan akurat. Aku sampai dengan selamat di rumah sahabatku. Alhamdulillah... Terima kasih, Rabb... Maka sesudah kesulitan akan ada kemudahan.

Selama perjalanan, aku merasa diuji sekali kesabaranku. Berada di atas motor selalu mampu menjadi kesempatan yang tepat untuk merenung. Apa yang ku lihat selalu memberikan pengetahuan baru tentang hidup, tentang bersikap, tentang segala hal. 

Selama perjalanan tiba-tiba aku teringat sebuah ayat dalam surat Al-Ankabut ayat (2), "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"

Subhanallah... Surat ini mampu mengingatkan kembali akan niatku berhijrah, agar tak berputus semangat serta bersuudzan kepada Allah dengan mengeluh. Allah Maha membolak-balikkan isi hati, semoga kita ditetapkan dalam kekuatan iman, islam, dan ihsan. Allah...Allah...Iam Yours... 

-SRSL-
Alam Semesta, 02062014




Senin, 12 Mei 2014

Ku Sebut Ini Sebuah Kematian

Ku sebut ini sebuah kematian
Ketika aku merasa tangan, kaki, hati, dahi, dan semesta tak bersahabat
Seperti kerongkongan yang tersumpal sesuap nasi tanpa air
Seakan ingin berkata, namun terkunci

Diam
Bisu
Mungkin ini yang ku sebut mati

Aku selalu ingat
Dulu sekali...
Seseorang berkata, ada saatnya kau akan merasakan kematian
Kematian yang menarikmu dari keramaian
Kematian yang mengunci keinginan
Kematian yang menggelapkan rutinitas

Hanya kau dan duniamu
Hanya kau dan rumah sakit jiwamu

--------------------------------------------------------------

Pada saat itu, kau akan tahu siapakah yang peduli
Yang merasakan adanya perbedaan
Yang merasakan adanya kehilangan

Baiklah, mungkin kesakitan ini menumbuhkan sebuah pemahaman
Karena ketika diam, hati dan pikiran tak akan berhenti berpikir
Berpikir untuk mencari jawab atas tanya
Berpikir untuk menempatkan kembali apa yang telah rusak

Tak ada yang salah, seperti jalan yang tak pernah mengeluh meski dipilih hujan untuk turun

Aku tuli
Aku buta
Aku bisu
--------------------------------------------------------------

Bila pedalaman hati tak mampu bercahaya
Maka diamlah, namun jangan diam.

-SRSL-
Alam Semesta, 13052014