Kamis, 13 Februari 2014

UNTUK WANITA YANG AKAN MENYEDUH SEGELAS SUSU COKLAT MENJELANG TIDUR MALAMMU

Aku tak pernah berani membayangkan. Bagaimana raut wajah wanita beruntung yang kau pinta menjawab "iya" atas permohonan menikahmu. Mungkin setelahnya kau akan menghidupkan mimpi dalam pelukan panjangnya setiap malam.

Untukmu yang beruntung, yang ku harap itu adalah aku di masa depan. Mungkin dua - tiga tahun lagi.

Dulu ia pernah bercerita padaku untuk menikah di usia dua puluh lima tahun. Usia sunnah Rasulnya untuk menikah. Kala itu, aku hanya mengaminkan sambil tersenyum sipu penuh harap. 

Biar ku beri tahu, dia seorang pria dewasa berstruktur tulang belakang sempurna. Dia akan memberimu tanpa kau memintanya. Dia seorang penyayang yang tak banyak bicara, namun terkadang ia sangat manja. Hanya di depanmu, ingat hanya di depanmu. 

Dia suka tidur di sebelahmu. Menunggumu mengusaikan dua rakaat sunnah terakhirmu sambil mengamini doa yang kau panjatkan dengan mata tertutup. Lalu ia akan merajuk manja memintamu memijat kepalanya. Pada waktu nanti, kau tak akan pernah menolak sedikitpun permintaan manjanya.

Menjelang subuh, kau akan membangunkannya dengan bisik dan elusan kasih di rambutnya. Percayalah, dia lebih manja ketika kau membangunkannya. Suaranya tak pernah separau suaramu ketika bangun tidur. Entahlah, mungkin karena ia sudah benar-benar tak pernah menghisap sebatang rokok pun. Kembali kau akan dikagumkan dengan ini. 

Agar ia semakin sayang, maka seduhlah susu coklat hangat menjelang tidurnya. Itu adalah minuman favoritnya dimana pun kami makan, dulu. "Susu Milo hangat satu, Bu" itu yang pertama ku dengar ketika kami makan di kantin kampus dulu. Ku rasa itu akan menjadi kebiasaan yang bertahan hingga usia senjanya. Ah, Tuan Susu...

Penggila duren. Selalu paling jago bahkan cerewet untuk masalah tawar menawar. Tapi aku sayang. Aku suka melihatnya berbicara dengan mulut penuh duren. Kalau sudah begitu, siapkan air putih di sebilah kulit duren lalu ia akan menyeruputnya dengan sedap.

Sebetulnya, dia seorang petualang yang suka sekali mengunjungi tempat baru. Namun ia tak punya banyak waktu untuk itu, tersita dengan pekerjaannya. Sebuah profesi yang membuatnya bangga untuk diceritakan pada anak gadis berkuncir dua dalam pangkuanku. 

Tingkahnya seringkali menggemaskan. Bila sudah dekat dengan seseorang, ia akan menjadi orang paling cerewet. Paling suka bicara. Kau akan dipaksa bersabar menunggunya bicara jika di tengah perjalanan ia bertemu dengan orang yang dikenalnya. Namun, aku pastikan kau akan menikmati meski sedikit bersungut. 

Nanti ketika kau melahirkan anak-anak lucu kalian, jangan pernah resah karena ia jago memilih nama cantik. Aku sudah menyimpannya satu, semoga nanti dia kelupaan dan aku yang mengingatkan untuk memakai nama itu. 

Hati-hati, ia mudah terserang sakit di daerah tenggorokannya. Ku sarankan untuk menjaga makanannya agar tidak terlalu mengandung minyak atau minuman dingin, semisal gorengan atau es. Ia sangat menggemari pempek palembang. Paling cerewet juga masalah ini. Oya, ia akan bersungut jika tahu kau makan kebanyakan sambal. 

Dia ini pemimpi yang berkeyakinan teguh. Kepercayaan atas kebaikan Tuhannya untuk memenuhi inginnya sangat besar. Salah satu mimpinya, ia ingin berumroh dengan istrinya. Semoga  kau merasa bersyukur atas itu. Ia juga sudah menyiapkan plat nomor cantik yang bagiku terbaca seperti merk minuman isotonik. 

Impian terhebat yang juga menjadi bagian impianku sejak dulu, ia ingin mendirikan pondok pesantren penghafal Qur`an. Semoga. Dan pasti bisa. Aku selalu menyambut impiannya dengan amin terdalam. Aku bisa membayangkan betapa bahagianya ketika ia berdiri di kelilingi santri-santri yang menyambutnya dengan hormat. 

Aku menyukai lele. Tapi ia tidak. Baginya lele makanannya jorok. Ughh... ia tak tahu saja betapa nikmatnya. Nanti kau harus mencobanya untuk menyiapkan makan siang dengan menu lele. Oya, cabenya cukup dua saja, karena ia tak suka pedas. 

Nona...
Siapapun kau, aku hanya ingin mengucapkan betapa beruntungnya dirimu memilikinya. Semoga kau bersyukur menikmati lantunan surat Ar Rahman di sela rakaat sholat malam kalian. Maafkan jika surat ini terlalu panjang.


 
Pebruari 2014
Sincerely, Me
SRSL


Selasa, 11 Februari 2014

8 Nasehat Umar bin Khattab Ra Tentang Kunci-Kunci Kemuliaan



  1. Barangsiapa meninggalkan ucapan yang tidak perlu, maka dia akan diberi hikmah
  2. Barangsiapa meninggalkan penglihatan yang tidak perlu, maka dia akan diberi kekhusyu’kan dalam hati
  3. Barangsiapa meninggalkan makan yang berlebihan, maka dia diberi kenikmatan beribadah
  4. Barangsiapa meninggalkan tertawa yang berlebihan, maka dia akan diberi kewibawaan
  5. Barangsiapa meninggalkan humor, maka dia akan diberi kehormatan
  6. Barangsiapa meninggalkan cinta duniawi, maka dia akan diberi kecintaan kepada akhirat
  7. Barangsiapa meninggalkan perhatiannya kepada aib orang lain, maka dia akan diberi kemampuan untuk memperbaiki aibnya sendiri
  8. Barangsiapa meninggalkan penelitian tentang bagaimana wujud Allah, maka dia akan terhindar dari nifaq

**************************************************************
Karena hidup adalah belajar.... 

One Click

"Tak perlu risau. Menyesali keindahan dulu adalah kebodohan atas senyum keindahan sekarang. Semua sudah ada yang mengatur"
- SRSL-

Dalam hidup aku belajar untuk percaya bahwa tidak ada keberuntungan yang kebetulan. Kekalahan atau kemenangan adalah dua keputusan akhir yang terbaik. Pada saat itu kita mungkin merasa keputusan itu adalah yang terburuk, namun tanpa disadari waktu terus berjalan dan mempertemukanmu pada keindahan-keindahan baru. Hingga tertutuplah kesedihanmu. 

Seperti kata Darwis Tere Liye, tak ada sehelai daun pun yang jatuh tanpa kehendak-Nya. 
Jika bahagia itu pilihan, mengapa harus memilih sedih sebagai pilihan? 
Ada kalanya kita harus menjadi pahlawan untuk diri sendiri. Sakit untuk bahagia lebih panjang. Bukankah itu jauh lebih baik? Mungkin saat ini kita tersakiti atas sikap orang lain. Namun, ketegasan adalah pengantar untuk kehidupan lebih baik berikutnya. Aku lebih memilih pergi untuk semua sakit daripada bertahan dengan ketidakpastian.

Aku seperti perahu dengan dua nelayan. Dalam satu waktu, kedua nelayan memiliki arah yang berbeda namun memiliki satu tujuan yang sama. Nelayan satu memilih berputar ke arah barat, sedangkan nelayan kedua berputar ke arah timur, namun keduanya bermuara di sudut dunia bagian utara. Perahu harus memilih siapa nelayannya, jika tidak ia akan menghadapi arus tebal bertumpuk-tumpuk. Bila hidup adalah pilihan, maka Tuhan adalah pemilik kuasa untuk provokator hati. 

Perahu hanya memiliki dua pilihan, memilih salah seorang nelayan atau bahkan melepas semua dan berjalan menyusuri arus. Selalu ku tanamkan dalam hati bahwa tak ada keputusan yang salah. Setiap keputusan selalu beresiko. 

Kini, aku berjalan dan bertumpu pada dua kaki dan segumpal hati penuh semangat untuk menjemput impian. Cerita itu kini bukan lagi tentangmu. Tapi tentangku dan diriku. Sampai jumpa.

Jumat, 07 Februari 2014

Pantaskah?

"Seringkali kita terlalu sibuk mencari yang pantas, namun lebih sering lupa memantaskan diri" -SRSL-

Perlu ku beri tahukan di awal, jangan pernah bertanya perihal jodoh kepada si sok serba tahu, Mbah Google. Percuma saja, ia akan menjawab dengan  pilihan-pilihan berupa iklan kesehatan pelangsing badan atau penambah vitalitas pria dewasa.

Cinta pertama adalah panah pembanding untuk cinta kedua dan seterusnya. Ku ingatkan, jangan pernah menjalin hubungan berlebih. Jatuh cinta adalah anugerah. Salah satu keindahan yang ditawarkan oleh Allah SWT untukmu. Namun, Dia tak memintamu untuk memelihara dalam hubungan tak pasti.

Terkadang saya merasa iri melihat mereka yang hidupnya disibukkan dengan pengabdian pada Tuhan dan ilmu. Bagi mereka, jodoh adalah pemantasan diri. Allah tidak akan memberikan jodoh yang berbeda dengan apa yang dilihat dibalik cermin. Pun juga jodoh Allah tak pernah tertukar. 

Setiap keputusan berbanding lurus dengan resiko. Tidak ada keputusan baik atau buruk. Jika dilahirkan ke dunia adalah keputusan buruk, tentunya Allah tak akan memilih seseorang untuk menjalankan perannya. Begitu juga kita, sekecil apapun kita, pasti ada alasan untuk Allah mencipta. Kenali diri, selalu mengenali diri. Hanya di kesunyian pesakitan jiwa kamu akan dapat berbicara dengan dirimu.

Jika berpasangan dianggap sebagai eksistensi diri, tentunya aku akan merasa kasihan. Eksistensi atau kualitas seseorang tidak didasari pada laku tidaknya kamu di pasaran. Eh,? Bukan. Maksudku, seseorang akan menilai bukan berdasar pada keindahan fisik saja. Bisa jadi itu pandangan awal, namun selanjutnya yang dicari adalah ketenangan dan keselarasan tujuan untuk masa depan. 

Setiap kita pasti memiliki gambaran sosok seperti apa yang diinginkan. Begitu pun dengan saya. Jika kita (perempuan) adalah bagian tulang rusuk mereka (laki-laki), pastinya kita tidak akan berbeda. Setidaknya, sedikit banyak selalu ada yang bisa membuat cocok meski sekilas mereka adalah dua orang bertolak belakang.

Sampai disini aku belum mendapatkan kesimpulan atas pertanyaanku. Jika pemilik tulang rusuk dicipta terlebih dahulu, lalu bagaimana dengan mereka yang menikah dengan usia suami yang lebih muda? Apakah secara biologis saja dia terlahir lebih lama daripada istri atau bahkan pemilik tulang rusuk itu si istri? Ah, adakah yang bisa memberi penjelasan?

Seharusnya aku malu membiarkan imajiku bergerilya mencipta sosok sempurna untukku yang tak sempurna. Aku terlalu sibuk menggambar hingga lupa menggambar yang terbaik untuk diriku. Maafkan aku, Rabb.. 

****************************************************************
Catatan di suatu sore menuju senja, SRSL


Selasa, 07 Januari 2014

Please, Jangan Buka Topengmu!

Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan ku lihat warnamu

(Peterpan - Topeng)

Bagiku, setiap wajah adalah topeng. Di dalamnya tersimpan ribuan cadangan topeng yang siap diperankan. Ketika seseorang merasa nyaman dengan kehadiran kita, maka secara otomatis ia setuju dengan topeng yang kita pilih. Begitu juga sebaliknya, jika ia tidak merasa nyaman dengan kita, mungkin ada yang salah dengan topeng yang kita pilih.

Aku selalu percaya bahwa karakter itu pilihan. Bukan takdir. Seperti sandiwara kolosal. Ada lakon antagonis dan protagonis. Tergantung bagaimana kita menyikapi. 

Malaikat diciptakan dari nur (cahaya) sehingga ia ditakdirkan untuk selalu melakukan kebaikan. Setan/iblis diciptakan dari api, simbol kemurkaan untuk ahli dalam kejahatan. Sedangkan, manusia diciptakan dari tanah. Tanah berada di tengah-tengah langit dan bumi, itulah mengapa manusia memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan buruk. 




Setiap wajah selalu berlomba-lomba menunjukkan topeng terbaik. Apa yang kita tunjukkan sekarang itu juga topeng. Menjadi pribadi yang tenang, santun, cerdas, cuek, pemarah, temperamen, atau sabar adalah pilihan. 

Aku yakin, bahwa orang-orang yang berkarakter kuat saat ini bukan begitu saja ia meraihnya. Perjalanan mereka pasti sangat panjang. Mulai dari mengenali diri, mengenali orang sekitar, mengaplikasikan hingga pertengkaran batin sudah pasti mengikuti. 

Nda mudah jadi orang baik, Nduk!
Begitu sebuah nasihat seseorang kepadaku. Baiklah, aku dan kamu mungkin bukan orang baik. Bisa jadi orang baik yang dipaksakan. Tapi bukankah kebaikan yang ada di dunia ini adalah kerja sama antara pilihan dan paksaan? Sebut saja habits atau kebiasaan. 

Seringkali aku menemui orang yang berpenampilan tenang, dewasa, santun. Ketika aku coba untuk sharing, ternyata memang tidak semudah itu untuk mencapai titik karakter hebat. Oya, karakter itu bukan faktor keturunan, tapi sudah bisa dipastikan bahwa karakter adalah pengulangan kebiasaan seseorang dari apa yang dilakukan oleh lingkungan. Dalam hal ini, pengaruh terbesar adalah keluarga.

Seorang anak akan memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan orang tua. Jika bapaknya seorang temperamen, bisa dipastikan ia juga temperamen. Begitu juga jika bapaknya seorang yang rajin mengaji, berbicara sopan, dekat dengan anaknya, maka dipastikan anak itu memiliki rasa penyayang lebih subur dari bapaknya. Istilah orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. 

Mengapa begitu?
Karena seorang anak berkiblat pada kebiasaan dan penerimaan yang diperoleh dari orang tua. Semua orang juga setuju jika lingkungan sosial pertama yang dimiliki seorang anak adalah keluarga. 

Dulu sekali, waktu aku akan pergi lomba pramuka. Kami naik sebuah truk menuju lokasi lomba. Kebetulan aku duduk di samping pak sopir. Saat itu, pak sopir bercerita mengenai anaknya yang masih sekolah, sebuah nasihat meluncur "Jika kamu tidak merubah pola pikir, maka kamu akan menjadi seperti bapak. Seorang sopir. Tapi kamu harus berkembang dengan kemampuanmu, jangan matikan pikiran hanya karena menyerah pada keturunan dan silsilah keluarga.". "Coba lihat anak kecil di seberang jalan itu. Sejak kecil ia sudah dibiasakan untuk meminta, ketika besar kemungkinan besar ia juga akan menjadi seperti bapaknya jika tak mau menggunakan pikirannya."

Ada pula seorang teman yang menurut teman lain, ia orang yang sangat menyebalkan, kekanak-kanakan, celometan, bicara ngawur, mau menang sendiri. Suatu ketika aku bertemu dengan adiknya, dan ternyata karakternya juga tidak jauh berbeda. Hanya dengan versi sedikit berbeda, tapi dasarnya sama. Pengamatan tidak berhenti pada adiknya, tapi aku perhatikan juga sikap ibunya. Owh...memang betul, ia benar-benar terbentuk oleh karakter keluarga. Saat itu aku hanya sekilas saja melihatnya, tapi dari cara ibunya memperlakukan tamu (kami, teman-temannya) terlihat sekali bagaimana perlakuan yang sama pula yang diterima anaknya, temanku. Kalau boleh disimpulkan, temanku ini membutuhkan pengakuan dari dunia luar, karena ketika di rumah ia masih diperlakukan seperti anak kecil. 

Oleh karena keluarga berandil penuh terhadap karakter seseorang, maka pengamatanku dilanjutkan dengan mengenali keluargaku. Bapakku, ibuku, kakak-kakakku. Disitu aku tahu, beberapa sifatku dominan ke bapak atau ke ibu. Bapak yang pekerja keras, humoris, dan mandiri sedikit tertular kepadaku. Ibuku yang penyayang, mudah tersentuh, bawel, keras kepala dan suka menyanyi juga tertular kepadaku. 

Hasil pengamatan tidak selalu terfokus pada sikap positifnya saja, tapi sikap negatif justru harus disorot besar. Sifat negatif adalah tunas karakter seseorang. Bila sikap negatif di-habitskan, maka bersiaplah untuk menjadi manusia paling menyebalkan. 

Setiap pagi aku selalu berdoa, 
"Ya Allah...pertemukan aku dengan orang baik dan orang belum baik yang bisa membaikkan aku."
Karena aku percaya, tidak ada orang baik dan orang buruk. Yang ada hanya orang baik dan belum baik. Mereka sama-sama memberikan kesempatan untuk kita belajar mengenali diri. Saat melihat orang baik, dalam benak berkata, aku harus bisa seperti itu. Begitu juga sebaliknya, aku jangan seperti itu, karena seperti ini rasanya dibegitukan.

Aku pribadi tidak begitu setuju akan nasihat "Be Yourself"
Menjadi diri sendiri itu baik, jika mempertahankan sifat baik. Namun menjadi tidak baik ketika yang ditonjolkan adalah sifat atau kebiasaan tidak baik. 

Aku juga kurang setuju pada ungkapan, "terimalah aku apa adanya". Masa iya, orang lain harus rela menerima sikap kita yang pemarah, pemalas, tak bertanggungjawab, iseng, rese, celometan, suka mencela atau suka datang terlambat?  Tentu tidak bukan?

Selalu ada hal yang dikorbankan untuk memperoleh kebaikan. Mungkin kita harus sering bertengkar dengan sikap atau habits lama untuk mencapai habits baru yang lebih baik. Tapi, tidak ada yang sia-sia kan jika itu berdampak respon positif lingkungan untuk kita? 

Islam mengajarkan kita untuk selalu meluangkan waktu khusus bermuhasabah. Bisa setelah sholat, sebelum tidur maupun di tengah malam. 10 - 20 menit saja, coba dirunut apa saja yang sudah dilakukan hari ini. Mulai dari bangun hingga menjelang tidur. Bayangkan kita menonton tayangan diri kita hari ini. Perhatikan juga sikap yang kita beri ke orang lain. Mungkin ada kata yang menyakitkan, raut wajah yang menyebalkan, sikap yang merendahkan. Gali terus. Rasakan, pasti ada rasa tak nyaman ketika kita mengingat perlakuan tak baik terhadap orang lain. Bagus, gunakan itu sebagai dasar untuk memposisikan diri sebagai orang yang kita sakiti. Dengan begitu, InsyaAllah kita lebih berhati-hati.

Baiklah, biar ku ulang. Setiap wajah adalah topeng terbaik dari diri. Kenapa begitu? karena jika kita buka topeng sedikit saja, mungkin tidak akan ada yang mau berkawan dengan kita. Pilih dan tempatkan topeng sesuai porsinya. Allah saja sudah menutupi aib kita, masa kita dengan gamblangnya membocorkan sendiri keburukan kita? Hidup ini hanya sekali, jangan pernah disia-siakan. Nikmati apa yang dimiliki dan tetap perbaiki diri. Ayo senyum. ^_^

Selasa, 17 Desember 2013

Sudah Bukan Rintik Lagi

Aku tak begitu menyukai hujan. Hujan membuatku harus berpayah melawan saat mengendarai motor. Tetesannya mencipta embun di luar lensa kacamataku. Menutup pandangan. Aku tak suka.

Hujan membuatku repot dengan jas hujan. Bila memakai model atas bawah, aku kesusahan dengan rok span coklatku. Namun, jika memakai model kelelawar, bagian bawah tubuhku kebasahan.

Belum lagi jika aku terjebak hujan dengan temanku. Harus berbagi. Satu sama lain saling berusaha mengalah untuk memakai. Namun tak urung akhirnya kami putuskan untuk tak memakai.

Hujan membuat pria tua penjual sayur itu bersusah mengayuh sepeda bututnya. Gerobak sayur di belakangnya mungkin sudah penuh air karena tak tertutup. Ah, sesenja itu.

Hujan juga membuat pengemudi pick up L-300 hitam tersebut tak bertanggungjawab atas gesekan pada sepeda anak SMP. Kau tahu, aku dan ibu di sebelahku hanya bisa terkejut, lalu berteriak istighfar melihatnya bangkit dengan sepedanya.

Namun setidaknya, hujan membuat riang anak-anak SD selepas bel pulang berdering.

Jumat, 13 Desember 2013

Ketika Seseorang Berkata Padaku

Seseorang berkata padaku, "Apakah kamu ingin jadi ustadzah?" 

Kalimat yang terlontar dalam sebuah percakapan SMS. Ketika aku mulai mencari informasi mengenai kursus mengaji atau informasi kegiatan keagamaan. Ditambah perubahanku dua bulan terakhir ini. Perubahan penampilan lebih tepatnya. 

Seseorang berkata kepadaku, "ketika kamu hendak memakai pakaian, pasanglah kancing dari bawah seraya berdoa agar pakaian yang kamu kenakan mampu mengangkat derajatmu." 

Sejak itu aku mulai menerapkannya. Arti filosofinya mungkin begini, ketika kita mengancing dari bawah dapat diartikan pergerakan untuk mencapai derajat tertentu selalu diawali dari level terendah, kemudian sedikit demi sedikit merangkak ke atas. Berdoa seperti itu menarikku untuk berpikir dua kali dalam berpakaian. Ketika pakaian yang ku kenakan terasa tak sepantasnya, maka akan timbul rasa malu. Masa iya, kita mengenakan baju tak patut tapi minta dinaikkan derajatnya? 

Seseorang berkata padaku, "Ketika bercermin hendaknya kamu berdoa agar Allah membaikkan akhlakmu sebaik Dia menciptakan dirimu."

Sama dengan berpakaian, kini aku mulai menerapkannya saat bercermin. Meski sering lupa juga. Ketika lupa dan segera ingat kelalaian, maka lekas-lekas aku berdoa sembari menutup mata agar tak melihat ke cermin dulu. 

Seseorang berkata padaku, "Ketika kamu marah, diamlah."

Pada dasarnya aku adalah seorang yang mudah meninggi. Mudah tersinggung dan mudah menyolot. Tapi juga mudah dingin. Ketika dingin, rasa sesal kerap muncul, akibatnya sering salah tingkah sendiri. Ketika ia berkata padaku, aku berusaha untuk menarik nafas panjang dan diam. Meski terkadang masih susah menjalankannya. Tapi alhamdulillah, emosiku sudah mulai bisa ditaklukkan. Lalu seseorang lagi berkata padaku, "Ketika marah, bacalah surat Al Ihklas sambil menarik nafas dan rasakan ayat-ayatnya memenuhi rongga hatimu. Lakukan 3x. Lalu ia melanjutkan, "Jadilah seperti surat Al-Ikhlas, ketika kamu ikhlas tak perlu diucapkan karena Al-Ikhlas pun tak pernah menyebutkan kata "ikhlas" dalam susunan ayatnya."

Lalu, seseorang berkata lagi padaku, "Kalau ada adzan, jangan berisik. Simak dan dengarkan, karena orang yang tak menghiraukan adzan nanti di akhirat dibuat tidak dengar ketika namanya dipanggil"

Langsung takut, entah benar entah tidak. Seyogyanya, yang ku tahu menghormati adzan adalah mendengarkan dan menyimak. Jadi, tak ada salahnya kan? Ditambah dengan membaca doa setelah adzan berkumandang. Makin sip! 

Ketika terjaga, aku berusaha berdoa agar diberi ketajaman intuisi. Peka terhadap nasehat, juga suka dengan kritik orang lain. Berbicara tentang kritik, jadi ingat pengalamanku dulu. Pagi itu, sembari bersiap kerja aku berdoa, "Ya Allah, lebarkan telingaku agar mampu menampung setiap kritikan, juga luaskan hati dan pikiranku agar tak mudah tersulut emosi sebelum benar-benar mencernanya dengan baik. Ketika sampai di tempat kerja, ada kritikan pedas yang ku terima. Entah karena doaku sudah di dengar atau kebetulan (Ah, tak pernah ada kebetulan), kala itu aku langsung diam dan berpikir. 

Terkadang, seseorang membutuhkan waktu panjang untuk sekedar bisa membaca gerak dan bekas yang ada pada diri. Aku pribadi masih tertatih-tatih dalam hal ini. "Who am I? " Pertanyaan ini selalu bergelayut manja. Kata orang, apa yang kita temui adalah apa yang kita lakukan. Semacam karma, mungkin. Seseorang juga pernah berkata, ketika ia mengalami hal tidak mengenakkan dari orang lain, seketika ia berbicara pada dirinya, "Apakah aku pernah memperlakukan orang seperti ini?"

Perlahan namun pasti, setiap perubahan besar selalu di awali yang kecil. Aku yakin. Semoga. 
Kini, aku tidak perduli dengan perkataan orang mengenai penampilan baruku. Terserah mereka mau bilang aku seperti guru ngaji, guru agama, atau apalah. Aku doakan semoga yang berkata begitu segera mengikutiku, karena dulu aku juga bersikap seperti itu terhadap mereka yang berpakaian tertutup. Nah...kan?

Ah..pe-er ku masih banyak. Amat sangat banyak. 
Percaya deh...Allah senang lihat hamba-Nya berusaha memperbaiki dirinya. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum tanpa ia berusaha merubahnya?