Senin, 23 Juni 2014

Aku Menulis Cinta

Ada banyak cara cupid menancapkan panahnya. Salah satunya dengan bertemu dan berbincang. Sudah dari sananya bila rasa suka timbul dari intensitas pertemuan dan interaksi. Mungkin itu pula alasan Islam memberikan batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

Lelaki memang seringkali harus berpikir sebelum bersikap. Dan sayangnya, perempuan seringkali salah tingkah menangkap kebaikan lawan jenis. Andai dibiarkan bergaul tanpa memberikan batasan, maka resiko "gampang suka" pun semakin tinggi. Aihyaa...jadi ingat sebuah nasihat, "Jangan mudah jatuh cinta, nanti hati yang merana. Jangan mudah menerima, nanti diri sendiri yang memendam kecewa"

Cinta sejati bukankah tak cukup ditandai dengan lancarnya komunikasi melalui dunia maya? Ya BBM, ya SMS, ya Line, ya Kakao, dan...lain sebagainya. Cinta sejati pun tak cukup ditandai dengan memasang foto profil berdua. Apalagi sampai membuat status yang bikin risih tetangga. 

Jadi ingat betul saat masih jaman sekolah. Mungkin karena ke-lelakianku yang bikin saya nyaris nda laku di pasaran. Lima belas tahun di bangku sekolah, dihitung sejak taman kanak-kanak. Rasanya hidup saya sepi dari pergunjingan masalah lope-lope. Eh, jangan dikira saya adem ayem aja ngerasa begitu. Ngiri juga sebenernya sama temen-temen yang laku laris manis. 

Kadang pengen juga ngerasain nangis di kelas setelah diputusin pacar, lalu teman-teman yang lain coba menghibur. Jurusnya nda jauh-jauh amat dari kata sabar dan jodoh nda kemana. Belum lagi tiap hari ada tukang ojek yang dengan setia mengantar jemput. Malam minggu nge-mall bareng, nonton Dealova atau film-film yang dianggap romantis kronis. Kalau kebetulan pacarnya satu sekolah, kalau istirahat bisa makan mie ayam bareng di bawah pohon asem. Apalagi kalau cinlok pacaran sekelas, bisa duduk sebangku dan tangan nda lepas pegangan. Ah, anak-anak. 

Teman-teman saya rata-rata yang gampang banget dapat pacar dan gampang banget putusnya, bisa dipastikan punya paras dan body yang aduhai. Eh, kadang ya nda begitu aduhainya, sih... Cuma mungkin mereka lebih tahu dulu ilmunya menggaet lawan jenis, makanya lebih mudah punya pacar. Beda sama saya yang cupu sukanya panas-panasan pake seragam coklat dan suka kejar-kejaran sama anak cowok di lapangan sekolah sambil cekakakan. 

Hmmm....
Empat tahun tak terasa sudah melewati masa SMK. Undangan pernikahan sudah terkumpul banyak. Yap, teman saya sudah banyak yang menikah. Bahkan, beberapa diantaranya sudah punya anak lebih dari satu. Oya, yang menjadi suami mereka rata-rata orang baru, bukan salah satu dari para tukang ojek yang setia dulu. Disini saya bersyukur, rupanya ada banyak lakon hidup yang Allah beri untuk saya. Ada beribu kesempatan yang mungkin tak dapat dirasakan oleh teman-teman yang sudah lebih dulu berkeluarga.

Berbicara tentang cinta, sepertinya tak ada habisnya. Mulai lagu, film, sinetron, kisah wayang, kisah Dewa. Pasti nda pernah luput dari kisah percintaan. Orang bilang, sebuah cerita akan mati bila tak dibumbui dengan percintaan. Bahkan, cerita anak-anak pun dibumbui dengan kisah cinta. Lihat saja dongeng Cinderella, Putri Salju, maupun kisah Rapunzel.

Bila cinta memang tak dihadirkan melalui keindahan fisik, maka cinta ditumbuhkan dari kecocokan jiwa. Hal itu berkaitan erat dengan kenyamanan, dan kenyamanan sendiri tidak dapat dibeli dengan harta, popularitas atau paras. 

Mungkin itu yang membuat lelaki di luar sana lebih memilih wanita sederhana namun indah akhlaknya. Sosok yang tak hanya cukup dianggap pantas diajak kondangan, namun lebih pantas dijadikan istri dan ibu bagi anaknya. Seseorang yang tak hanya memikirkan kemajuan dirinya, namun ia adalah sosok yang menyibukkan dirinya untuk kepentingan orang banyak. Keluarga, agama, pendidikan dan lingkungannya. Mungkin terlihat sok sibuk bahkan lupa memperhatikanmu, namun itulah kesederhanaannya mencintaimu. Mungkin juga ia tak mampu memberikan apa yang kau mau, namun ia selalu berusaha memberikan apa yang kau butuhkan.

Allah itu Keren, dan aku percaya...
Jangankan urusan yang besar, urusan remeh temeh seperti memberi bagian makan semut pun Allah yang urus. Apalagi urusan jodoh kita, percaya deh... Allah sudah menulisnya di Lauhul Mahfudz, bahkan sebelum kita dilahirkan ke dunia. Sekarang, tergantung bagaimana kita menjemput jodohnya. Apakah dengan merengek dan merendahkan diri atau dengan menyibukkan diri untuk memperbaiki? Apakah kita menjemputnya dengan cara yang baik atau justru sebaliknya? atau apakah kita hanya berharap kepada Allah atau justru mengiba pada manusia?

Proses inilah yang akan menentukan catatan sebagai dosa atau pahala. Proses ini pula yang menentukan seberapa baik jodoh kita. Bukankah ayat Allah dalam surat An Nur ayat 26 sudah jelas tertulis? Orang baik untuk orang baik, orang tidak baik untuk orang tidak baik. Meski ini bukan janji Allah untuk jodoh yang baik bagi mereka yang baik. Tapi, ayat itu memperingatkan kita untuk lebih selektif memilih pasangan. Kenyataannya, sering terjadi orang yang baik justru mendapat yang tidak baik. Namun, itu semua takdir Allah, apa sih yang tak mungkin bila Allah berkehendak membaikkan hambaNya?

Nah, makanya kalau jatuh cinta diam-diam saja. Menyampaikannya juga diam-diam saja. Bisik-bisik saja sampai hanya Allah yang dengar, lalu selipkan doa untuk dia yang terbaik disana. Bukankah cinta yang tak disampaikan tetap saja disebut cinta? 

Ah...
Semoga kita bisa menjemput jodoh dan rizki dari Allah dengan cara terbaik yang disukaiNya. Hingga keberkahan hidup dapat kita nikmati di dunia juga di akhirat kelak. Aamiin...

******************************************
-SRSL-
Alam Semesta, 23062014
DalamLautanPetang

Minggu, 01 Juni 2014

Kembali Aku Belajar

Selalu ada hikmah dibalik kejadian...

Dimainkan jalan selama tiga jam bukanlah waktu yang singkat. Perjalanan yang seharusnya cukup ditempuh dalam waktu tiga puluh menit molor menjadi tiga jam. Apapun, tetap bersyukur. Masih diberi kesempatan belajar sabar.

Jadi ceritanya, hari Minggu kemarin aku hendak membesuk seorang sahabat yang menjadi korban kecelakaan. Bertekad baja dengan keberanian yang diberani-beranikan, aku memutuskan untuk mencari rumahnya sendirian. Sebelumnya aku sudah pernah kesana, namun percayalah aku bukan penghafal jalan yang handal. 

Belum-belum perjalanan diawali dengan salah jalan. Alamatnya di daerah Sukodono. Berbekal pesan singkat berisi rute dan alamat, aku pun berangkat. Rute pertama disebutkan daerah Kletek. Dari kampus aku langsung meluncur dengan yakin menuju arah Sidoarjo Kota. Kecepatan 60km/jam tak menjadi beban. Dengan perasaan yang meyakinkan diri, namun tetap terjadi keributan di hati. Ko, perasaanku nda enak yah? Bisikku dalam hati. Namun tetap berpacu sambil menggambarkan rute. Tepat di daerah Sruni, aku tersadar. Glek! Kletek kan seharusnya ke arah Sepanjang. Segera kucari jalan putar balik. Masih dengan semangat 60km/jam, kupacu menuju arah kletek. 

Rute kedua diminta "setelah dari Kletek lurus saja sampai Kecamatan Sukodono"

Baiklah, kutarik kembali gas motor. Tiba-tiba adzan Maghrib berkumandang. Maka kuputuskan merapat di Masjid daerah Bungurasih. Subhanallah... masjidnya cantik sekali. Bergegas mengambil wudlu untuk mengejar sholat berjamaah. Seperti masjid pada umumnya, ada pembatas bagi jamaah wanita dan pria. Wanita sebelah kiri dan pria di sebelah kanan. Tampaklah seorang makmum perempuan bermukenah putih. Tapi ko kecil ya? Sudah, tak ada waktu untuk menerka-nerka. Segera kukenakan mukenah biru kesayanganku dan kurapatkan tubuhku pada sebuah tubuh yang tinggi kepalanya tak sampai di pundakku.

Selepas sholat, kutengok jamaah di sebelah kananku. Aih, manis sekali. Seorang gadis kelas satu sekolah dasar. Putri namanya, datang dengan ibunya yang menunggu di bawah dengan adiknya. Mereka berasal dari Lampung dan sedang ke Sidoarjo mengunjungi saudaranya. "Putri, ini buat kamu" Kusodorkan sebuah pensil kayu warna kuning. "Terima kasih, Tante...bagus pensilnya." ucapnya ceria. "Tante tempat mukenahnya bagus, ada kacanya."

Putri yang riang mengajakku ngobrol bertanya ini dan itu. Selesai kurapikan mukenah dan kerudung, kami pun turun. Sebelumnya, kami sempat berpelukan dan kuselipkan sebuah pesan "Sekolah yang pintar ya, jangan lupa sholatnya dijaga. Kamu hebat, ngalahin Tante waktu seumuran kamu" 

Ahh...
Belajar bisa dimanapun dan kapanpun. Aku tahu, Allah sedang mengirimkan seseorang untuk menambah keimananku. Menambah kecintaanku untuk tak mau berpuas diri mendekat pada-Nya.

Perjalanan berlanjut. Tak lama kemudian kubaca beberapa plang nama toko beralamatkan Kletek. Yes! Tinggal mencari Kecamatan Sukodono. Begitulah isi pesan rute ketiga, Kecamatan Sukodono. Lebih berhati-hati dan waspada ku tengok kanan kiri untuk mencarinya. Perjalanan terasa panjang, berkejaran dengan Bus dan kendaraan pribadi yang serampangan. Kletek semakin menjauh dan sampailah di By Pass Krian. Huftt... pantas saja kendaraan-kendaraan ini bagai kesetanan. Perasaanku semakin tak enak. Masa iya sejauh ini? Selama perjalanan sudah berkali-kali bertanya pada orang di pinggir jalan. Mereka selalu berkata, "Oh, masih terus, Mbak." 

Terakhir, kutanya pada seorang Bapak perkasa yang sepertinya baru pulang dari sawah. Dari Bapak ini baru kusadari kalau sudah tersesat jauh sekali. Bapak tersebut menyarankan untuk masuk gang depan, tak lupa mengucap terima kasih lantas kuikuti sarannya. Perjalanan baru ini menyusuri sebuah sungai di sebelah kanan jalan. Angin yang meniup air sungai membiaskan udara dingin pada pukul tujuh malam itu. Kususuri jalan sambil menikmati hawa sejuk dan pemandangan hijau. Suasana pedesaan masih terasa disini. Aroma dedaunan yang dibakar, logat warga yang masih kental, bentuk rumah dengan halaman luas, warga yang berbondong sholat jamaah ke masjid, ataupun tumbuhan liar yang masih kutemui di sepanjang jalan. Krian memang bisa disebut desanya Sidoarjo.

Adzan Isya berkumandang. Kembali kuputuskan mampir pada sebuah masjid yang sedang direnovasi. Tampak jamaah pria dan wanita lebih banyak dari masjid yang pertama tadi. Seperti masjid pada umumnya, jamaah wanita selalu diisi dengan ibu-ibu dan mbah-mbah (nenek-nenek). Segera kukenakan kembali mukenah biruku dan mengambil shaf dibelakang. Selalu saja ada yang berbaik hati membagi sajadahnya untukku. Selepas salam terakhir dalam sholat, kucium tangan mbah-mbah di sebelahku. Senyum ramahnya menunjukkan gigi yang sudah tinggal beberapa saja. Namun sempat kurasakan gerakan sholatnya yang tak tertinggal dengan jamaah yang lain. Apa itu kunci kekuatan tulangnya? sholat berjamaah. 

Si Mbah menanyaiku hendak kemana, lantas kuceritakan perjalananku, aih...Ibu-ibu yang lain ikut peduli mendengar kisahku. Mungkin kasihan melihatku yang sudah berdempul keringat dan asap jalan. Mereka menunjukkan simpatinya kepadaku dengan penuh perhatian. Senyum yang tak lepas dari wajah. Ah, selalu kutemukan orang baik di dalam masjid. Ya Allah...berilah keberkahan pada sisa usia mereka. 

Demi mengejar jam yang terus berpacu, segera kubergegas melanjutkan perjalanan. Saat kupasang masker sempat kulirik Si Mbah mengantarku sampai di serambi masjid. Melanjutkan perjalanan mencari clue berikutnya, Bidan Kartini belok kiri. Kata ibu-ibu di masjid tadi, untuk sampai di Desa Pekarungan aku tinggal mengikuti jalan utama sampai ada lampu merah, lalu belok kanan. Lagi-lagi aku tersesat dan tak yakin. Aku bertanya pada bapak penjual bakso dan diarahkan kembali ke rute yang berbeda. Kuturuti sarannya, namun sampai jalan habis tak juga ku lihat plang bertuliskan "Bidan Kartini". Akupun kembali bertanya dan diarahkan untuk putar balik. Kali ini dengan ekstra hati-hati dan waspada yang makin terasah, kupelankan laju motor sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Nihil. Sebelum putus asa mencuat, kembali aku bertanya, "Mas, Bidan Kartini sebelah mana?" tanyaku. "Lha itu Mbak, kan ada tulisan bidan?" jawabnya. Kutengok arah yang dimaksud, "Lho, itu bukan Bidan Kartini, Mas". Si Mas ikutan ragu, "Ya itu bidannya mbak, dikenalnya Bidan Kartini" 

Glek! Ceguk! Ceguk!
Malu bertanya memang sering bikin sesat di jalan. 

Hatiku rasanya sudah sedikit lega, karena seingatku setelah ini belok ke kiri sedikit lalu masuk gang kecil ke kanan. Demi meyakinkan agar tak tersesat lagi, aku bertanya pada dua mbah yang sedang bercengkerama. Alhamdulillah... kali ini feeling ku pas, tepat dan akurat. Aku sampai dengan selamat di rumah sahabatku. Alhamdulillah... Terima kasih, Rabb... Maka sesudah kesulitan akan ada kemudahan.

Selama perjalanan, aku merasa diuji sekali kesabaranku. Berada di atas motor selalu mampu menjadi kesempatan yang tepat untuk merenung. Apa yang ku lihat selalu memberikan pengetahuan baru tentang hidup, tentang bersikap, tentang segala hal. 

Selama perjalanan tiba-tiba aku teringat sebuah ayat dalam surat Al-Ankabut ayat (2), "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"

Subhanallah... Surat ini mampu mengingatkan kembali akan niatku berhijrah, agar tak berputus semangat serta bersuudzan kepada Allah dengan mengeluh. Allah Maha membolak-balikkan isi hati, semoga kita ditetapkan dalam kekuatan iman, islam, dan ihsan. Allah...Allah...Iam Yours... 

-SRSL-
Alam Semesta, 02062014




Senin, 12 Mei 2014

Ku Sebut Ini Sebuah Kematian

Ku sebut ini sebuah kematian
Ketika aku merasa tangan, kaki, hati, dahi, dan semesta tak bersahabat
Seperti kerongkongan yang tersumpal sesuap nasi tanpa air
Seakan ingin berkata, namun terkunci

Diam
Bisu
Mungkin ini yang ku sebut mati

Aku selalu ingat
Dulu sekali...
Seseorang berkata, ada saatnya kau akan merasakan kematian
Kematian yang menarikmu dari keramaian
Kematian yang mengunci keinginan
Kematian yang menggelapkan rutinitas

Hanya kau dan duniamu
Hanya kau dan rumah sakit jiwamu

--------------------------------------------------------------

Pada saat itu, kau akan tahu siapakah yang peduli
Yang merasakan adanya perbedaan
Yang merasakan adanya kehilangan

Baiklah, mungkin kesakitan ini menumbuhkan sebuah pemahaman
Karena ketika diam, hati dan pikiran tak akan berhenti berpikir
Berpikir untuk mencari jawab atas tanya
Berpikir untuk menempatkan kembali apa yang telah rusak

Tak ada yang salah, seperti jalan yang tak pernah mengeluh meski dipilih hujan untuk turun

Aku tuli
Aku buta
Aku bisu
--------------------------------------------------------------

Bila pedalaman hati tak mampu bercahaya
Maka diamlah, namun jangan diam.

-SRSL-
Alam Semesta, 13052014


Minggu, 16 Maret 2014

Aku Sebut Ini Hijrah

Pagi ini tepat pukul 7.42 WIB aku tiba di kampus untuk berkumpul dengan rombongan yang akan datang ke Talk Show with Oki Setiana Dewi. 

Aku masih ingat beberapa tahun lalu, ketika masih duduk di SMK. Sekitar tahun 2010, awal kemunculan Oki di televisi. Dalam sebuah film yang mengangkat namanya, Ketika Cinta Bertasbih. Saat itu, teman-temanku ribut pengen nonton, tapi aku adalah satu-satunya penghuni kelas yang menolak dengan mantap untuk tak ikut menonton. Alasannya sepele, kisah cinta Islami yang bagiku gak banget. 

Aku dulu terkenal dengan "kelelakianku" meski rambutku tak dipotong cepak namun tingkah dan kesukaanku menyerupai lelaki.  Ataghfirullah...Jahiliyah. :-(

Menyadari sebuah pesan bahwa jika mengetahui sebuah ilmu namun tak diamalkan, maka akan menanggung dosa. Disitu aku berkesimpulan, "Lebih baik nda ngerti sama sekali, daripada tahu tapi nd abisa mengamalkan.". Nah, dengan kesimpulan semena-mena ini, aku sok idealis menolak dengan tegas ajakan mereka. 

Sampai sekarang pun aku tak pernah tahu bagaimana cerita pasti tentang film Ketika Cinta Bertasbih. Dulu pernah dikasih pinjam CD (Compact Disc) nya sama temen, saat ku putar, sukses deh bikin tidur. Walhasil, nda tahu jalan cerita. Adegan yang ku ingat adalah saat Ana di bis, sudah. Khatam. 

Nama pemainnya siapa saja juga aku tak tahu. Sosok Oki pun baru aku tahu kalau dia pemeran Ana di film tersebut. Belum lagi pemain yang lain, mungkin aku hanya tahu wajahnya namun tak tahu siapa namanya. Yah..begitu apatisnya saya. 

Saking apatisnya, saat pertama melihat sosok Oki, aku sempat nyeletuk, "Buat apa sih kerudungan segitu rapetnya, biasa ajalah, nda perlu terlalu fanatik." Hmm..emang dasar apatis jahiliyah, -_-

Aku selalu bersyukur, bagiku tahun 2013 adalah awal kebangkitanku untuk tersesat ke jalan yang benar. :)

Memang betul apa yang mereka katakan, bahwa jika ada hamba yang berjalan ke arahnya, maka Allah akan berlari menjemputnya untuk memberikan jalan. Satu persatu aku ditunjukkan jawaban atas setiap pertanyaan yang ku jawab sendiri dengan kesinisan. Finally... aku sukses sadar bahwa aku Islam KTP. Pemahaman Islam dangkal yang menyatakan bahwa Sholat, puasa ramadhan, atau berhaji bagi yang mampu itu baik. Dan mencuri atau durhaka pada orang tua itu buruk.

Aku sebut saat ini adalah proses hijrah...
Sedikit demi sedikit aku mulai paham dan merubah cara berkerudung, berpakaian, bersikap, beribadah maupun bertutur kata. Sempat tersirat rasa malu dan minder dalam diri. Aku yang bermula dari tak tahu apa-apa, memberanikan diri merubah penampilan untuk ukuran seorang perempuan sholehah. Aku juga takut ketika mereka mempertanyakan ke-islamanku. Bagaimana ngajimu? sudah hafal berapa juz? Bagaimana hukum ini-itu? Bagaimana kalau seperti ini? Sungguh, aku pernah merasa kerdil untuk ini. 

Mengingat aku juga tak berasal dari keluarga dengan kekentalan Islamnya. Aku juga bukan anak yang notabene lulusan pondokan. Aku sangat menyesal bila mengingat kenakalan masa kecilku, yang begitu sulitnya disuruh pergi mengaji. Kini, aku baru tahu mengapa masa muda itu masa emas untuk mempersiapkan masa tua. Ah, Tari... tak ada kata terlambat. 

Pemahamanku untuk mengakui bahwa tak ada suatu hal yang terjadi tanpa campur tangan Allah pun semakin menguat. Kini, aku dimudahkan untuk mengambil sisi positif dari hal negatif. Syukur Alhamdulillah. Emosiku juga tak begitu lekas meledak. Cara berbicaraku juga tak se-ekstrim dulu. 

Penampilanku mampu mengontrol rasa malu. Kembali lagi, alhamdulillah... Oki bilang, kerudung itu bukan dipakai saat sudah memahami Islam namun kerudung adalah pembuka pintu kebaikan.

Bertemu Oki pagi ini membuatku semakin bersyukur dan menaruh rasa penasaran untuk belajar lebih menjadi perempuan sholehah. Oki ternyata juga bukan lulusan pondokan, juga bukan dari keluarga yang kental ke-islamannya. Namun, ketika Allah berkehendak, maka kun fayakun. Aku ingin mendapatkan kun fayakun nya Allah. Dalam hal ini, banyak teladan dari Oki yang harus aku tiru. 

Kata Mbak Beb, "Formula orang sukses itu sama, mimpi. Pembedanya hanya kesungguhan."


SRSL
Sby, 17032014






Rabu, 12 Maret 2014

Tak Ada Alasan Untuk Tak Bersyukur

Bagaimana perasaanmu bila disakiti orang?
Bagaimana perasaanmu bila menyakiti orang?
Bagaimana jika ia tegas untuk menghapusmu dari memori?

Terkadang seseorang harus tegas terhadap hatinya. Tegas terhadap hal yang mampu melemahkan. Bila memang harus dihindari, maka lepaskan. Percayalah, itu hanya masalah waktu. Pada akhirnya, waktu yang akan menggerus kenyataan pahit lalu menggiringmu pada keindahan. Sebuah keindahan yang mampu memaafkan kenangan.

Mungkin dalam hitungan detik, menit, jam, hari, bulan atau tahun. Kita tak pernah tahu. Allah selalu Maha membolak-balikkan isi hati. Sebuah permainan yang menempa. Perlu diyakini, seseorang yang menyakitimu ialah orang yang meninggalkan jejak kedewasaan dalam dirimu, meski sedikit.

Hidup tak melulu masalah roman. Ada banyak impian dan tugas yang harus di eksekusi. Jangan menunggu Allah take over  bebanmu jika tak terdapat usaha dalam diri. Pisau pun akan menjadi tumpul bila tak diasah. Begitu pula kita. Yakin deh, Allah tak pernah menciptakan sesuatu tanpa alasan.

Allah menciptakan kita tentunya dengan kepercayaan paling sempurna. Dia menitipkan mata, tangan, telinga, mulut, kaki, kulit, hidung. Bagaimanapun bentuknya, itu ialah milik-Nya tersempurna untukmu. 

Bila sudah begitu, mengapa harus risau dengan bentuk hidung yang pesek? tubuh yang gemuk? kaki yang pendek?  kulit yang gelap? tubuh yang kurus? gigi yang kelebihan volume? atau bibir yang tebal dan lebar?

Percaya, semua adalah aset terhebat yang dititipkan oleh Allah. Jangan pernah membayangkan bila Allah mencabut kontrak pinjaman aset dari tangan kita. Bersyukurlah, dengan hidung yang pesek kamu masih bisa tersenyum tulus. Tubuh gemukmu membuat orang sayang kepadamu. Kaki pendekmu diringankan untuk mendatangi kajian atau masjid. Kulit gelapmu menambah senyum manismu. Tubuh kurusmu yang kebal terhadap penyakit. Gigi kelebihan volumemu yang akan menampilkan keceriaan tanpa pamrih, atau bibir tebal dan lebarmu yang selalu tersusun kalimat motivasi dan menyejukkan untuk orang di sekitarmu.

Tersenyum dan berbahagialah.  
Laa Tahzan, Innallaha Ma'ana. Jangan bersedih ya, Allah bersama kita.
Semangat rehat...


Kamis, 06 Maret 2014

Koma dan Cinta

Pernahkah kau bertanya mengapa koma hanya dijadikan sebagai tanda baca?
Menjadi jeda tak jenak untuk merangkai kata selanjutnya?
Atau sebagai pelengkap? Ada namun tak terbaca?

Tuan, pagi ini ku lihat kau sungguh menarik dengan kemeja kotak-kotak birumu. Entah mengapa, aku berhasil menghitungmu mengenakannya sudah lima kali dalam sebulan ini. Pernah satu hari kita tanpa sengaja mengenakan kemeja kotak biru. Tentunya beda motif dan model. Aku hanya tersenyum kecil dan berbisik dalam hati, ah jodoh kali.

Tuan, ingin ku katakan rambutmu tertata rapi sekali. Butuh waktu berapa lama untuk memasang gel disana? Kau selalu nampak rapi meski bukan baju bermerk seperti kawan di sebelahmu. Kau selalu perhatian meski tak mengenal perempuan yang kakinya terkena knalpot dengan muka masam jenaka.

Siang ini, ku pastikan kau sedang makan siang di meja pojok bersama kawan berambut cepak dengan beberapa helai uban. Tumis wortel dan telur dadar ialah kegemaranmu. Ditambah segelas susu hangat. Sempurna.

"Terkadang, penempatan ini adalah koma. Pemberi jeda untuk kata berikutnya."
Selamat siang, Lelakiku.  

Ayo Masak!

Sejak kapan kamu suka masak?
Sejak pagi ini. Hehehe
Sebetulnya sudah sering juga aku masak, asal tak keduluan ibu memboikot dapur. hihi #alasan aja

Ada banyak rasa saat memasak. Bingung, penasaran, khawatir, deg-degan. Nano-nano pokoknya untuk ukuran chef amatiran macam saya. Ahad lalu saya memasak tumis pare. Seninnya masak urak-arik indomie campur sayur campur telur alias tak tahu namanya. Rabu masak sayur bayam. Kamis keduluan ibu bangunnya, dan pagi ini saya masak tumis baby kailan. Duilee...gaya.. lagi-lagi tumis! --___--"

Mengapa aku bilang memasak itu ada banyak rasa. Ya, karena ketika memasak aku harus benar-benar mengingat resep lalu mengaplikasikannya. Jangan sampai lupa memasukkan semua bahan sesuai urutan. Bisa jadi bawang merah dan bawang putih di tumis setekah semua sayur matang. #Duh.

Akan semakin berdebar tatkala siap dihidangkan. Aku akan memandang dengan cemas saat sendok ibu menyentuh masakanku dan memindahkan ke mulut. Aku pasti langsung bertanya, "Gimana, Bu?" ... "Enak, Nduk!" Hahaa.. senangnya!

Kata Bapak, harus bisa masak yang lain. Jangan tiap hari dikasih tumis terus. 
"Tapi kan materi sayurnya beda, Pak?"
  #tetep aja ngeyel, duh --___--"

**********************************************

Memasak itu salah satu daya tarik lelaki untuk perempuannya.
Namun aku tak pernah setuju jika itu dijadikan poin utama. 
Lelakiku, biar ku beri tahu. Ketika sudah kau pilih wanitamu, maka ia akan berusaha untuk memasak masakan halal dan thayyib untukmu dan anakmu. Ia akan berjuang keras untuk memenuhi selera kalian agar betah makan di rumah. 
Menghabiskan malam dengan meja penuh makanan bergizi serta obrolan kecil sebagai penyempurna sajian.
Selamat memasak.