Kamis, 08 Januari 2015

Hanya Karena Habis Masanya

Dua ribu lima belas lewat delapan hari.

Dalam setahun lalu tentunya masih ingat dengan sangat jelas orang-orang yang berlalu lalang mengisi catatan kecilku. Pada buku harian, notes, notepad atau bahkan memo di handphone. Orang-orang yang istimewa bagiku. Sebagian menginspirasi, sebagian lagi menegur agar tak bersikap seperti itu. 

Konon katanya, bila seseorang pergi maka akan ada seorang lain yang datang. Semuanya memberikan jejak yang jika kita pandai menangkap maka akan kita dapatkan pesan itu. Ada yang datang tanpa disengaja, lalu berlalu begitu saja. Dengan atau tanpa alasan. Mereka membawa pesan agar kita belajar menjadi manusia-Tuhan. 

Kepergian itu ada yang disesalkan pun juga ada yang dibiarkan begitu saja. Tanpa diratapi atau berbekas kekecewaan. Namun ada juga yang membekas bahkan mengganggu kehidupan selanjutnya. Mereka yang menghantuimu dengan rasa penyesalan dan jutaan kalimat perandaian. 

Tapi, bagaimanapun juga jatah kehadiran mereka sudah dicatat di lauh mahfudz. Bisa jadi pertemuan hanya sampai disitu, bisa jadi pula mereka diminta pergi sementara untuk dipertemukan dengan kita kembali. Sederhananya, saat ada pertemuan maka harus siap dengan perpisahan. 


Sabtu, 27 Desember 2014

Hidup Ini Lucu!

Sepertinya sekarang semakin mudah saja melihat kesuksesan seseorang. Kamu akan menemukan dimana keberadaan mereka. Berfoto di luar negeri, berfoto seru dengan teman-teman, berfoto narsis dengan berbagai gaya, berfoto di tempat mewah, bahkan meng-update perkembangan anak mereka, seakan-akan setiap jengkal perkembangan adalah masa berharga yang sayang bila terlewat. 

Ukuran sukses hari ini : 
Semakin banyak berita yang kamu upload dengan bertumpuknya komentar atau like atau love. Apakah itu? Rela berhutang untuk sekedar punya smartphone super canggih. Paling mentok yang dicari besar kamera, bisa bbm, whatsupp, instagram, twitter, fb, kakao, line. Padahal dari sekian banyak fasilitas yang disediakan ujungnya cuma buat foto-foto lalu meng-upload biar beken. Ukuran sukses.

Saat ini, ukuran seseorang disebut manusia bisa dilihat dari gadget yang dipunya. Semakin canggih handphone-mu, maka semakin menawan dirimu. Bahkan, tak sedikit orang berani menjadi maling atau pengamen untuk sekedar disebut manusia. 

Manusia sekarang mudah sekali mengeluh. Hal sepele bahkan dianggap sangat penting dengan meng-update di kotak status. Hujanlah, panaslah, sakit hatilah, galaulah. Status galau kadang bisa diartikan semacam pemikiran kusut yang bingung harus dilampiaskan kemana. Mental yang semakin melemah, jaman dulu belum ada socmed pun berita bunuh diri juga tidak menjadi trending topic.

Hidup ini lucu, bahkan ketika kamu berkata hidup ini lucu namun untuk tersenyum saja kamu lupa caranya.

Jadi apa ukuran suksesmu?

Sedikit Saja, Bicara Tentang Kebebasan

Menjelang tiga bulan kurang tiga hari. Keputusan yang kuanggap terbaik, sampai detik ini. Hasil dari pertimbangan hebat, antara idealisme dan tanggung jawab pada kesayangan. 

Terkadang hidup tidak melulu bicara mengenai kalah atau menang. Adakalanya kamu akan merasakan bebas dari apa-apa. Pikiran bebas yang tak ingin berpikir apa-apa, pandangan yang bebas, hati yang bebas, senyum yang bebas. Terkadang sederhana saja untuk menikmati hidup. 

Selama masa bebas ini, aku benar-benar merasakan bebas. Bahkan pernah--sering, ketika terbangun lupa ini hari apa. Tak ingin berpikir. Bangun tidur, minum air putih segelas, ambil wudlu, shalat, berhenti sejenak, bahkan memilih membaca buku hingga tertidur kembali. Masa dimana aku ingin menikmati hidup dengan apa adanya, dengan bebas tanpa bayangan gelisah tentang masa depan atau masa lalu. Mengalir saja. 

Kebersahajaan itu muncul ketika hanya kamu dan dirimu yang bicara. Memandang tenang sekeliling dengan hati luas penuh maklum. Aku menikmati diamku. Saat diam, telingaku terasa lebih peka dan hatiku lebih penuh. 

Kamu ingat? ketika kita bertemu? kamu terheran menanyakan keberadaanku. Ya, aku jawab, everyday is holiday. Kuharap, pemikiranmu masih sederhana, masih menegurku untuk tak keterlaluan berimajinasi. Tenang saja, bahkan kamu masih indah di hatiku.

Rabu, 24 Desember 2014

Klakson

Aku membutuhkan banyak pertimbangan untuk sekedar membunyikan tombol di setir sebelah kiri itu. Bagiku, klakson ialah benda keramat yang tak boleh sembarang dibunyikan. Dia bukan sekedar tombol yang bisa ditujukan pada sembarang orang. Bukan pada orang yang mendadak berhenti, pada tukang krupuk yang tak terlihat orangnya dari belakang,  atau pada mereka yang ketahuan melamun di lampu merah. Bukan..bukan.. Bahkan aku membenci mereka yang menambahkan umpatan kasar di ujung klakson.

Klakson memberikan sengatan tersendiri, menimbulkan gelisah sesaat setelah mendengar. Baiklah, mungkin klakson diciptakan sebagai pengganti mulut. Tapi bukankah "mulut" itu bisa lebih dibunyikan dengan halus? tak perlu tekanan berotot dengan lolongan yang panjang. 

Bila klakson merupakan kepanjangan dari "mulut", maka dia merefleksikan bagaimana kamu. Manusia dengan penuh emosi dan tingkat kesabaran yang payah. Sedikit-sedikit menekan klakson.

Saat di jalan kita memiliki berbagai hal yang dapat menyebabkan perubahan pada mood. Pada lampu merah yang terkesan lambat menghijau, terjebak palang pintu kereta yang ternyata hanya sebuah lokomotif yang berjalan manja, atau pada angkot yang suka berhenti sembarangan. Hal sepele yang mampu merubah kondisi diri dalam sekejap, tentunya itu akan terjadi bila kamu mudah terseret. 

Hmmm...bukankah kita memiliki hak untuk bersikap? Bukan dipengaruhi keadaan namun kita yang mempengaruhi keadaan. Andai kita bisa lebih bisa menarik hal baiknya, menahan untuk tak mengumpat, tak mengeluh. Kita punya kepentingan. Sama, mereka juga. Namun kita memiliki hak untuk memilih, bahkan sebelum takdir akhirnya menuntun kita. Pokoknya kita bisa memilih. Coba sedikit bersedekah, dengan klakson. Tahan untuk tak menekannya. Coba beri kesempatan, gesekan hanya meninggalkan bekas, namun sekali lagi, kita memiliki pilihan dan bertanggungjawab atas suasana hati.

Jumat, 21 November 2014

Kamu Tak Sendiri

Tak pernah sendiri dan memang tak akan pernah sendiri. Kesendirian ialah buah dari kekerdilan cara berpikir. Seperti berprasangka tentang suatu keburukan, padahal sebetulnya keburukan hanya pengendapan dari kecurigaan. Lalu kecurigaan yang dipupuk akan menimbulkan kebencian dan berdampak gelisah tak berujung. 

Kita bisa kok hidup sendiri, mengandalkan kemampuan diri dan Allah.
 Iyaaa...memang betul, tapi ingat,
"Suatu saat kamu akan butuh orang lain. Yah, semacam rindu rasa ingin didengar saja. :)"

Minggu, 19 Oktober 2014

Biar Kusebut Ini Sebuah Nasehat di Pagi Hari

Matahari terbit dan terbenam sesuai jadwalnya. Kecuali jika ada awan genit yang sengaja menutupnya. Setiap hari seluruh penghuni semesta bekerja sesuai dengan tugasnya. Bulan menyinari di malam hari, matahari di siang hari, ada hujan yang hadir pada bulan-bulan tertentu, sisanya kemarau yang kadang tak berujung. Belum lagi angin yang bertugas mengeringkan baju atau berjasa mengelap tetesan keringat.

Ya, begitulah. Semua ada porsi dan bagian masing-masing. Tak terkecuali aku dan kamu. Memaksa untuk mampu mengerjakan semuanya terkadang merasa tenaga tak mumpuni. Semua ada bagiannya, begitu kata seseorang padaku di pagi itu. Berbagilah, maka kau akan menikmati hidupmu.

Selasa, 14 Oktober 2014

Iman Mutiara

Iman tak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertaqwa
Ia tak dapat dijual beli
Ia tiada di tepian pantai
(Raihan - Iman Mutiara)

Tak ada sesuatupun yang terjadi tanpa disengaja. Tak ada rasa yang tercipta tanpa kehendakMu.
Rabbi, ini adalah keindahan. Kenikmatan tiada tara. Janganlah Engkau cabut nikmat bermesraan denganMu.

MempercayaiMu berarti percaya atas kuasaMu. Apa yang terjadi adalah anugerah, maka tetapkanlah hati ini padaMu wahai Sang Penguasa Hati.

SRSL, 14102014