Rabu, 04 April 2012

M U F L I S

Definisi kata muflis sendiri ada 3 versi. Versi pertama dalam Bahasa Arab berarti "Pailit". Versi  keduanya dalam bahasa Inggris artinya "bangkrpt" yang oleh lidah pribumi Indonesia diseliwerkan menjadi "bangkrut". Versi ketiga dalam bahasa Alay-nya "Bokek". Sudah, pada intinya ditilik dari segi dan aspek mana pun, yang namanya MUFLIS itu tidak enak. 

Berbicara mengenai muflis, jadi inget salah satu sahabat saya, eh lebih tepat "paklek (*om-read)" saya. Lebih pantas disebut begitu karena ada bulu yang tumbuh tidak beraturan di pipinya. ^0^

Kami berdua mungkin dilahirkan dengan kesamaan nasib tapi berbeda sejarah. Umur jarak setahun, tapi keliatan banget kalo dia orangnya boros. Keliatan dari mukanya, Hihii. Mengaku anak band, gaya. Tukang pencet Piano. Sering dipanggil manggung di Caffe daerah Sidoarjo. Ini salah satu kebanggan dia, "Biasa, anak ben lek...". hmm Alay. Saya yang anak Qasidah saja biasa aja,
Oh iya, sebut saja dia Lek Sandy. Sandy morse, sandy rumput, sandy semaphore, dan,,,sandy sandy yang lainnya. Lulusan Sarjana Kimia tapi terdampar kerja sales alat-alat kesehatan. ck.ck.. disyukuri. 

Awal bulan kerja, gaji hanya numpang lewat, tanpa salam tanpa good bye. Biasa, remaja banyak kebutuhan. Setiap bulan sudah ada pos-pos yang antre untuk di isi. Kalau sudah begitu, untuk makan sehari-hari pun kudu hidup prihatin. Dari keadaan yang mengenaskan itu lah, kami berdua (*Me dan Lek Sandy) sepakat untuk bawa bekal setiap hari, "demi masa depan yang lebih cerah". Begitu motto hidup yang kami pekikkan dengan sumringah.

Pernah, di akhir bulan di ujung kemuflisan, kami sempat berembug untuk menghemat 5 lembar duit bergambar KAPITAN PATTIMURA. Kebetulan saat itu kami tidak membawa bekal, alasannya "bosen, pengen makan di luar". Ya sudah, dengan mengerahkan segenap pikiran, kami memutuskan untuk membeli makanan yang dapatnya banyak dengan harga maksimal lima ribu minimal, seminimal-minimalnya alias gak bayar. hehee

Awalnya kami sempat galau. Duit "sebanyak" itu ada beberapa menu pilihan :
1. Gado-Gado
2. Mie Ayam
3. Lontong Balap
4. Nasi Mbak Endang

Akhirnya, setelah menimbang, menyimak dan memikirkan, kami putuskan untuk membeli nasinya Mbak Endang. Dengan wajah sumringah semangat kegirangan, Alhamdulillahhh... kenyang juga walopun sebungkus di bagi dua.

Astaghfirullah,,,
Kami benar-benar sudah merusak paradigma masyarakat terhadap penilaian bahwa pegawai kantoran selalu mewah, bergelimang duit, keren, gadget oke, bermobil, de-el-el. 
ngerusak reputasi.!! owwwww mennnnnnn ....!
jeglekk!
Padahal kalo tahu ya, betapa nelangsanya hati kami,, betapa pilunya hati kami, andai hati kami bisa menjerit,,pasti tukang tambal ban pada bingung. (jadi bukan hanya mahasiswa aja yang bisa menjerit minta diturunkan harga BBM. Mungkin kita salah satu pendukung harga BBM naik, karena kalo BBM naik, gaji juga naik. hehee..)

Sebenarnya tulisan ini dibuat bukan sebagai barang bukti bahwa kerjaan kami cuma mengeluh, tapi ini adalah salah satu cara kami menikmati hidup. Walaupun kami masih kurang sekarang, tapi kami bisa tetap survive dengan gaya yang sok cool.

Beberapa hikmah yang bisa diambil dari ke-muflis-an :
1. mengajarkan kita untuk hidup sederhana, karena kalau mau hidup mewah fulus  yang dipake ga ada.
2. mengajarkan kita lebih hemat, karena mau boros mesti mikir-mikir.
3. jadi lebih open sama temen, soalnya kalo tertutup, pada ga tahu kalo kita lagi butuh sokongan dana
 
Wah, kenapa saya nulis ini ya? kan semuanya jadi tahu kalo kami sedang kesulitan finansial?

kasihani kami pak, bu, mas, mbak, paklek, bulek.. 
monggo ditransfer dengan ikhlas ke rekening kami.. 0((>..<))0


Tidak ada komentar:

Posting Komentar