Rabu, 11 Maret 2015

Jangan Tergesa

Sudah menjadi tabiat manusia bahwa tergesa-gesa itu ada. Hati yang dipenuhi dengan ambisi dan hawa nafsu. Rasa tak sabar sering kali menyelimuti. Alih-alaih berdoa, namun setengahnya lebih kita memaksa.

Sabar memang mudah diucap, namun tak sulit juga untuk ditahan.
Pahamlah aku mengapa para orang saleh lebih banyak diam daripada berbicara panjang lebar. Sebabnya, diamnya ialah pencarian makna dari ketafakuran. Ketika mereka berucap, singkat saja namun menancap penuh makna.

Diri ini masih sering kesusahan membedakan mana target, tujuan, maupun ambisi dan hawa nafsu. Selepasnya, terengah-engah tanpa tahu alasan. Akhirnya aku tahu, mengapa Dia membolak-balikkan isi hati. Agar kita bisa merasakan bahagia, namun seketika kita ditarik agar kembali mengingatNya. Agar tak berlebih, agar takarannya pas.

Teringat pada sebuah nasihat, hati itu laksana rumah, setiap rumah memiliki ruang tamu. Ketika kebahagiaan datang, maka dudukkan dia di kursi bahagia dan jika sedih datang, dudukkan dia di kursi sedih. Jadikan mereka berdua tamu di rumahmu, karena yang bertamu hanya dipersilahkan duduk di ruang tamu, tak menelanjangi isi rumahmu.

Aku tak sesempurna apa yang kuucap dan kutulis, namun biarlah aku mencatatnya sebagai pengingat, bahwa  setiap diri sejatinya meminta haknya untuk digerakkan pada kebaikan.

Pesan seseorang, jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Ya, jangan tergesa, karena tergesa sifatnya syaitan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar